Oleh: Inas N Zubir
Kepanikan PDIP terbaca sangat jelas dari nada suara Djarot Saiful Hidayat saat menanggapi rencana silaturahmi Jokowi dengan rakyat. Panik itu bukan tanpa alasan. PDIP sadar betul bahwa sebagian besar ceruk suara Jokowi berada di dalam basis pemilih mereka sendiri.
Pada Pemilu 2024 lalu, ketika PDIP secara terbuka berseberangan dengan Jokowi, penurunan suara mereka sangat signifikan. Dari 19,33% pada Pemilu 2019, PDIP rontok menjadi 16,72% di Pemilu 2024.
Padahal saat itu Jokowi belum mendeklarasikan dukungan kepada partai mana pun. Ini menunjukkan bahwa suara elektoral Jokowi mulai bergeser keluar dari PDIP.
Ironisnya, meski PDIP tetap menjadi pemenang Pemilu 2024, perolehan kursi DPR-nya sangat miris. Dari 128 kursi pada 2019 (dari total 575 kursi), turun drastis menjadi hanya 110 kursi pada 2024 (dari total 580 kursi).
Kemana suara PDIP di pemilu 2024 mengalir?
Salah satu penerima shifting yang paling jelas adalah PSI. Pada Pemilu 2019, PSI sebagai partai pendukung Jokowi hanya meraih 1,89% suara karena belum tersentuh penuh oleh elektabilitas Jokowi.
Namun setelah Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, memimpin PSI, terjadi pergeseran suara elektoral Jokowi dari PDIP ke PSI. PSI pun naik menjadi 2,81% di Pemilu 2024. Meski belum menembus parliamentary threshold, tren ini menjadi sinyal kuat bagi masa depan PSI.
Sekarang, Jokowi secara terbuka dan tegas mendukung PSI. Dalam setiap silaturahmi, beliau bahkan membawa atribut PSI dengan jelas. Ini adalah sinyal politik yang sangat kuat kepada konstituen Jokowi yang masih berada di ceruk suara PDIP, yakni “2029 saatnya bergeser ke PSI”
Sejarah pemilu Indonesia sudah membuktikan kekuatan fenomenal Jokowi dalam memengaruhi perolehan suara.
Pada Pemilu 2009, Partai Demokrat meraih kemenangan telak dengan 20,85%. Namun ketika Jokowi diusung PDIP pada 2014, suara elektoral Demokrat yang pro-Jokowi bergeser ke PDIP. Akibatnya, Demokrat anjlok menjadi 10,19%, sementara PDIP melonjak dari 14,03% (2009) menjadi 18,95% dan menjadi pemenang pemilu.
Fenomena yang sama kini akan berulang, tetapi arahnya berbalik. Namun Jokowi tetap menjadi tokoh fenomenal yang mampu menggerakkan suara pemilih sejak 2014 hingga sekarang. Pergeseran suara elektoral Jokowi dari PDIP ke PSI bukan lagi spekulasi, melainkan keniscayaan.
Berdasarkan pola shifting yang terjadi, diprediksi sekitar 10% suara elektoral PDIP akan berpindah. Sebagian di antaranya akan mengalir ke PSI. Bukan tidak mungkin pada Pemilu 2029, PSI bisa meraih sekitar 10% suara, sementara PDIP tergerus tajam, bahkan diprediksi hanya tersisa di kisaran 6%.
Dengan demikian, silaturahmi Jokowi dengan rakyat bukan sekadar acara biasa. Ini adalah momentum politik yang mengkonsolidasikan basis Jokowi di PDIP ke arah PSI. PDIP berhak panik, karena kali ini Jokowi tidak hanya membawa narasi, tapi juga menggerakkan suara. Arus sejarah elektoral sedang berubah, dan PSI berada di posisi yang sangat strategis untuk menjadi penerima manfaat utama dari gelombang eletoral Jokowi di 2029.
























