ASPEK.ID, BENER MERIAH – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan pengalamannya saat bertemu mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dalam kunjungan kerja ke Meksiko dan Argentina beberapa waktu lalu. Menurut Amran, hal yang paling membekas dari pertemuan itu adalah ketika Clinton justru menyinggung kopi Gayo asal Aceh.
Amran mengatakan momen tersebut menjadi bukti bahwa kopi Gayo telah memiliki reputasi yang kuat di pasar internasional.
Cerita itu disampaikan Amran saat meninjau lokasi pembibitan kopi di Rimba Raya KM 60, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7).
“Kabupaten Gayo Lues, kemudian Aceh Tengah, Bener Meriah, kita support terutama kopi. Kopi yang kita cicipi hari ini mendunia. Dan ada pengalaman saya. Waktu kami kunjungan ke Meksiko dan Argentina. Ketemu Bill Clinton, yang dibahas adalah kopi Gayo. Di situ saya terharu,” ujar Amran, dilansir dari CNBC Indonesia, Rabu (15/7).
Menurut Amran, pengakuan dari tokoh dunia terhadap kopi Gayo menunjukkan komoditas perkebunan Indonesia memiliki daya saing tinggi di pasar global. Karena itu, pemerintah akan terus memperkuat pengembangan sektor perkopian, mulai dari penyediaan bibit hingga dukungan anggaran bagi petani.
“Insya Allah pembibitan, penganggaran dan seterusnya, kami akan bantu petani kopi se-Indonesia, termasuk Aceh,” katanya.
Amran menyebut dukungan tersebut akan dialokasikan secara bertahap dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Ia berharap produktivitas kebun kopi meningkat sehingga mampu mendongkrak pendapatan petani.
“Insya Allah bisa, jadi kami mesti anggarkan 2-3 tahun ke depan. Kenapa? Kalau ada 2 hektar saja satu keluarga. 2 hektar saja. Kita hitung tadi itu Rp30 juta per bulan,” tuturnya.
Ia mengatakan, dengan pengelolaan lahan sekitar dua hektare, petani kopi berpeluang memperoleh pendapatan sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta setiap bulan.
“Jadi, Rp360 juta dibagi 12 (bulan). Itu Rp20 juta lebih sampai Rp30 juta per bulan. Itu di atas gaji Menteri. Itu mimpi kami. Saudara kita di Papua kemarin juga dapat Rp20 juta per bulan,” kata Amran.
Selain meningkatkan produktivitas, Kementerian Pertanian juga berupaya memperkuat rantai ekspor kopi Indonesia. Pemerintah menargetkan pengiriman kopi ke negara tujuan dapat dilakukan secara langsung tanpa melalui negara lain sebagai pusat distribusi (hub), sehingga nilai tambah ekspor dapat dinikmati lebih besar oleh petani dan pelaku usaha di dalam negeri.
“Karena kopi ini sudah mendunia. Bayangkan dunia kita getarkan lewat kopi Gayo, dari Indonesia. Harganya mahal. Nanti kita ekspor direct, nggak usah transit, jadikan negara lain hub, kita langsung,” pungkasnya. []
























