Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap porsi perbankan dalam pembiayaan UMKM terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut bukan disebabkan turunnya penyaluran kredit bank, melainkan karena meningkatnya kontribusi lembaga jasa keuangan non-bank dalam membiayai UMKM.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah OJK Ayahandayani Kussetyowati mengatakan sampai saat ini perbankan masih menjadi penyumbang terbesar pembiayaan UMKM di Indonesia.
Namun, porsinya perlahan berkurang seiring berkembangnya sumber pembiayaan UMKM dari lembaga jasa keuangan lain.
“Jadi pembiayaan UMKM ini juga melibatkan sektor-sektor lain di luar perbankan. Dan kemudian memang kalau kami melihat porsinya itu masih didominasi oleh perbankan, yaitu bank umum di mana dominasi dari UMKM itu portofolio di perbankan agak sedikit menurun dibandingkan tahun lalu,” ujarnya dalam acara Economic Briefing Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Berdasarkan data OJK, hingga Mei 2026 porsi pembiayaan UMKM yang disalurkan sektor perbankan mencapai 82,44 persen dari total pembiayaan lintas sektor. Angka tersebut turun dibandingkan Desember 2023 yang mencapai 85,09 persen, Desember 2024 sebesar 83,21 persen, dan Desember 2025 sebesar 83,56 persen. Sementara itu, kontribusi sektor perusahaan pembiayaan dan lembaga jasa keuangan non-bank (PVML) meningkat menjadi 17,50 persen, sedangkan pasar modal melalui security crowdfunding menyumbang 0,06 persen. Meningkatnya peran sektor non-bank menunjukkan sumber pembiayaan UMKM semakin beragam.
Diversifikasi tersebut dinilai positif karena membuka lebih banyak alternatif pendanaan bagi UMKM.
























