Jakarta- selama ini diyakini ponsel pintar bisa memicu kanker otak akibat paparan radiasi dari perangkat yang digunakan setiap hari. Namun, menurut dokter spesialis saraf dr Praveen Gupa, anggapan tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah.
“Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa menggunakan smartphone, laptop, atau menonton apa pun melalui layar menyebabkan kanker otak,” kata Gupta dilansir laman Hindustan Times, Kamis (30/7/2026).
Menurut dokter dengan pengalaman klinis lebih dari dua dekade itu, radiasi dari smartphone bukanlah radiasi pengion. Karena itu, radiasi tersebut tidak dapat merusak DNA dan memicu kanker.
Meski demikian, Gupta mengingatkan penggunaan layar secara berlebihan tetap dapat berdampak pada kesehatan. Paparan layar terlalu lama dapat menyebabkan mata tegang, gangguan siklus tidur, nyeri leher, sakit kepala, hingga masalah konsentrasi.
“Masalah sebenarnya dari penggunaan layar berlebihan adalah dampaknya terhadap tidur, kesehatan mental, dan fungsi otak kita,” kata dia.
Mitos lain yang sering membuat masyarakat cemas adalah anggapan bahwa sakit kepala selalu menjadi tanda tumor otak. Gupta menjelaskan sebagian besar sakit kepala disebabkan oleh kondisi yang lebih umum dan dapat ditangani, seperti migrain, sakit kepala tegang, stres, dehidrasi, sinusitis, atau faktor gaya hidup.
“Tumor otak hanya menyebabkan sebagian kecil dari seluruh kasus sakit kepala,” kata dia.
Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan sakit kepala dengan pola yang tidak biasa. Pemeriksaan medis diperlukan jika sakit kepala aering terjadi atau semakin berat, memburuk pada pagi atau dini hari, disertai muntah, dan terjadi bersamaan dengan kejang, mati rasa, gangguan penglihatan, atau perubahan kepribadian.
Anggapan bahwa tumor otak hanya dialami orang lanjut usia juga tidak benar. Menurut Gupta, tumor otak dapat berkembang pada siapa pun tanpa memandang usia, termasuk anak-anak.
Beberapa jenis tumor lebih sering ditemukan pada kelompok usia tertentu, usia bukanlah faktor penyebab tunggal. Karena itu, keluhan neurologis yang menetap tidak boleh diabaikan hanya karena seseorang masih muda.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, salah satu mitos paling berbahaya adalah keyakinan bahwa penyakit otak serius selalu ditandai dengan rasa sakit. Padahal faktanya, otak tidak merasakan sakit.
“Jaringan otak tidak memiliki reseptor nyeri, sehingga sejumlah gejala tumor otak dapat muncul tanpa adanya sakit kepala, terutama pada tahap awal,” kata Gupta.
Gupta mengimbau masyarakat agar tidak berlebihan dalam mencemaskan penggunaan perangkat digital. Menurutnya, menjaga kesehatan otak lebih berkaitan dengan pola hidup sehat dibandingkan ketakutan terhadap radiasi smartphone.
la menyarankan beberapa langkah untuk menjaga kesehatan sistem saraf, yaitu mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas, berolahraga secara rutin, mengelola tekanan darah dan diabetes, mengurangi stres kronis, menjalani pola makan seimbang, serta segera berkonsultasi dengan dokter saraf jika muncul gejala neurologis yang menetap atau semakin memburuk.























