Jakarta – CEO Lippo Group, James Riady, menegaskan lanskap bisnis global saat ini tengah menaruh perhatian besar terhadap potensi ekonomi Indonesia. Meskipun di tengah ketidakpastian dan dinamika ekonomi dunia, daya tarik Indonesia dinilai tetap kuat di berbagai sektor, dari teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) hingga industri ritel domestik.
“Contohnya di industri yang paling futuristik, paling ke depan itu yaitu AI dan robotics. Itu perusahaan-perusahaan teknologi sangat positif terhadap Indonesia,” ujar James yang juga Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, dikutip, Sabtu (1/8/2026).
Menurut James, kawasan Batam serta koridor Jakarta–Karawang kini menjadi destinasi favorit investor teknologi. Hal ini didukung oleh ketersediaan infrastruktur energi yang memadai serta konektivitas jaringan serat optik (fiber connection) berkecepatan tinggi ke jaringan global.
“Rata-rata mereka itu ingin masuk ke Indonesia dan rata-rata masuk ke Indonesia khususnya di Batam dan juga di jalur Jakarta ke Karawang itu karena memiliki kecukupan dari energi dan memiliki fiber connection itu ke dunia,” sambung dia.
Keunggulan Indonesia lainnya terletak pada posisi diplomasi politik luar negeri yang bebas aktif. Hal tersebut membuka akses luas bagi Indonesia untuk memperoleh teknologi mutakhir dari Amerika Serikat, termasuk pasokan chip GPU (Graphics Processing Unit) untuk AI.
Akses khusus ini didapatkan melalui prosedur aturan kontrol ekspor AS, investasi pusat data (data center) bernilai fantastis di Batam, serta verifikasi end-user secara resmi.
“GPU chip itu yang terkemuka di dunia, banyak negara tidak bisa akses tapi Indonesia bisa. Sehingga itu merupakan satu industri baru, suatu hari depan baru,” kata James.
“Indonesia tidak saja menjadi konsumen AI tetapi menjadi produsen, menjadi basis teknologi untuk setidaknya ASEAN tapi juga untuk keseluruhan yang namanya Global South,” sambung dia.
Di dalam negeri, James mencatat geliat ekonomi terlihat nyata dari agresifnya ekspansi sektor ritel. Banyak pelaku usaha yang bahkan kesulitan mendapatkan ruang sewa (leasing space) di pusat-pusat perbelanjaan seluruh Indonesia akibat tingginya permintaan.
“Jadi secara keseluruhan itu sekarang sedang ekspansif. Tetapi ada saja tentu segelintir kecil yang mungkin dengan situasi global bergejolak itu khawatir,” ucap dia.
“Tapi mereka yang akan ketinggalan, mereka yang akan kerugian. Jadi kami sendiri sangat yakin tidak ada keraguan terhadap Indonesia sendiri,” jelas James.
Visi Kepemimpinan dan Fondasi Ekonomi Nasional
Optimisme dunia usaha ini juga tak lepas dari arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. James menilai Presiden memiliki visi yang berani dan seimbang, baik secara defensif dalam memperkuat benteng ekonomi nasional, maupun ofensif dalam menangkap peluang global.
“Kita mendengar paparan dari Presiden untuk sekian kalinya, di mana Kadin itu terkesan bahwa ini seorang Presiden yang memiliki visi yang jelas, visi untuk pertahanan ekonomi bangsa kita di tengah-tengah tantangan yang ada saat ini,” ucap dia.
Sejumlah langkah konkret yang disoroti dunia usaha antara lain percepatan program swasembada pangan, hilirisasi industri, ketahanan energi, hingga program perumahan pro-rakyat.
“Kita juga melihat bahwa apa yang telah dilakukan dengan eksekusi dalam beberapa beberapa inisiatif beliau untuk swasembada pangan, hilirisasi, ketahanan energi, perumahan yang tidak pernah dalam sejarah, kita melihat program perumahan yang begitu pro rakyat,” papar James.
Poin penting lainnya adalah pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang dinilai sebagai pilar strategis dalam mendorong daya saing investasi nasional. “Kita juga melihat bagaimana Danantara itu telah dibentuk untuk menjadi ujung tombak dalam konsep Indonesia Incorporated,” terang dia.















