ASPEK.ID, JAKARTA – Sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia diperkirakan terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta lainnya terinfeksi hepatitis C, dua jenis hepatitis yang berpotensi berkembang menjadi infeksi kronis maupun kanker hati.
Keberadaan penyakit hepatitis mungkin tak lagi asing di telinga masyarakat, namun hingga saat ini eksistensinya masih kerap disalahpahami. Penyakit ini kerap dikaitkan dengan gejala kulit dan mata yang menguning. Padahal, hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh banyak hal.
Hal itu mengemuka dalam podcast TropmedTalk bertajuk “Hepatitis: Sering Didengar, Tapi Masih Sering Disalahpahami?” yang diselenggarakan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia.
Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dr. Fahmi Indrarti, Sp.PD-KGEH, menjelaskan bahwa penyakit ini paling banyak disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Meski demikian, ia menyatakan bahwa hepatitis juga dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol, obesitas, obat-obatan, maupun penularan melalui makanan yang kurang terjaga kebersihannya.
Lebih lanjut, dr. Fahmi menjelaskan bahwa virus hepatitis terdiri atas hepatitis A, B, C, D, dan E dengan cara penularan yang berbeda beda. Misalnya, hepatitis A dan E menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Lalu, hepatitis B dan C menular melalui cairan tubuh, seperti paparan darah. Sedangkan hepatitis D hanya dapat menginfeksi seseorang yang telah mengalami hepatitis B dan dapat memperberat penyakitnya.
“Yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah yang B dan C,” ungkap dr. Fahmi, dikutip dari laman UGM (22/8/2026).
Lebih lanjut, Fahmi juga meluruskan mitos bahwa hepatitis B dan C dapat menular melalui makan bersama. Ia menjelaskan bahwa boleh makan bersama, boleh berpelukan, dan tidak masalah. Orang dengan hepatitis tidak perlu dijauhi ataupun menghentikan seluruh aktivitasnya.
“Hepatitis juga tidak hanya menyerang orang dengan gaya hidup tidak sehat, tetapi juga dapat dialami siapa saja, termasuk bayi yang tertular dari ibunya atau seseorang yang terpapar darah dan peralatan tidak steril,” imbuhnya.













