ASPEK.ID, JAKAARTA – Masyarakat Indonesia rata-rata hanya tidur sekitar 6,8 jam sehari, lebih pendek dari durasi yang direkomendasikan. Dokter spesialis kesehatan tidur (somnologis), dr. Andreas Prasadja, RPSGT mengatakan, internasional merekomendasikan orang dewasa untuk tidur selama 7 hingga 9 jam setiap malam. Orang Asia memiliki durasi tidur terpendek dalam sejumlah survei.
“Kebutuhan tidur konsensus internasional adalah 7 sampai 9 jam, berarti kan minimum 7. Nah, sekali lagi masyarakat Indonesia rata-rata surveinya itu 6,8 jam. Di Asia tuh yang paling pendek,” kata Andreas dalam acara Health Talk: Are You Sleeping Right? di Jakarta, dikutip pada Jumat (25/9/2026).
Andreas bilang, salah satu persoalan utama adalah kesadaran masyarakat terhadap kesehatan tidur yang masih rendah. Kondisi tersebut semakin terasa pada masyarakat perkotaan seperti Jakarta yang harus membagi waktu antara pekerjaan, perjalanan, keluarga, hingga waktu untuk diri sendiri.
“Apalagi kayak di Jakarta nih, kita tinggalnya jauh, pekerjaan juga mesti masuk jam berapa, perjalanan. Pulang sampai rumah ngurus rumah, quality time dulu, jam sebelum tidur masih self-rewarding dulu. Nah, mau jam berapa tidur?” ujarnya dikutip dari CNBC Indonesia.
Ia menekankan tidur bukan sekadar waktu untuk mengistirahatkan tubuh. Kesehatan tidur juga berhubungan dengan kemampuan otak dan kondisi psikologis seseorang.
Saat tidur, kata Andreas, terjadi proses konsolidasi memori. Proses tersebut berperan dalam bagaimana otak memproses ingatan dan pengalaman yang dialami seseorang.
“Untuk psikologis kita justru kesehatan tidur itu penting. Makanya ke mana-mana semua kualitas manusia dasarnya adalah kesehatan tidur,” katanya.
Pentingnya durasi tidur juga disampaikan spesialis pernapasan dan tidur Dr. Nick Antoniades. Ia menjelaskan, orang dewasa umumnya membutuhkan tidur selama 7 hingga 9 jam, meski kebutuhan masing-masing orang dapat berbeda berdasarkan usia.
Tidur juga melalui sejumlah tahapan, mulai dari tidur ringan, tidur dalam atau slow-wave sleep, hingga fase REM. Tidur dalam berperan dalam pemulihan tubuh, pelepasan hormon pertumbuhan, perbaikan sistem kekebalan dan berbagai proses pemulihan lainnya. Sementara tidur REM berkaitan dengan aktivitas mental dan memori.
Ketika kurang tidur pada malam hari, sebagian orang memilih tidur siang untuk mengembalikan energi. Andreas bilang, tidur siang memang dapat membantu, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan kualitas tidur malam.
Ia bilang, siklus tidur pada malam dan siang hari berbeda. Satu siklus tidur malam dapat berlangsung sekitar 90 hingga 120 menit, sedangkan tidur siang sekitar 20 hingga 30 menit.
“Jadi yang sehat yang mana? Ya tentu yang malam. Nah kalau malam kurang gimana? Ya tentu kita ada tidur di siang hari, ada nap, ya tentulah akan lebih baik. Tapi prioritasnya ya malam hari,” jelas Andreas.
Untuk power nap, Andreas menyebut durasi sekitar 20 menit dapat dimanfaatkan untuk membantu mengembalikan kebugaran. Waktu yang ideal menurutnya berada sekitar pukul 13.00 hingga 14.00.













