ASPEK.ID, JAKARTA – Kementerian Keuangan melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Agustus 2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibanding posisi pada periode yang sama tahun lalu, yakni Rp321,3 triliun atau 1,35% terhadap PDB.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebutkan defisit ini masih jauh di bawah target defisit sepanjang 2026 yang sebesar -Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.
Posisi keseimbangan primer APBN 2026 mencatatkan surplus Rp154 triliun sampai Agustus 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding nominal surplus pada periode yang sama tahun lalu Rp22,2 triliun.
Realisasi defisit terjadi akibat total pendapatan negara lebih rendah dibanding realisasi belanja negara sampai lima bulan pertama tahun ini.
“Realisasi pendapatan negara tercatat Rp2.055,6 triliun sampai Agustus 2026, atau tumbuh 25,4% dibanding periode yang sama tahun lalu,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta, Jumat (18/9/2026).
DPD RI Soroti RAPBN 2027, Minta TKD Ditambah Jadi Rp780 T
Kendati demikian, secara porsi, realisasi pendapatan negara tercatat baru 65,2% dari total target APBN yang sebesar Rp3.153 triliun.
Di sisi lain, realisasi belanja negara tercatat Rp2.295,7 triliun atau meningkat 17,1% dibanding Agustus 2025. Porsinya 59,7% terhadap target belanja yang mencapai Rp3.842 triliun.
Dari sisi pembiayaan, realisasi pembiayaan anggaran negara tercatat Rp473,5 triliun atau tumbuh 10,9% dibanding periode yang sama tahun lalu.















