ASPEK.ID JAKARTA- Lembaga penelitian Pew Research Center merilis survei yang melibatkan 37 negara pada 1 Oktober 2026.
Secara keseluruhan, rata-rata 55 persen warga masih menilai media sosial membawa dampak baik bagi demokrasi, sementara 35 persen berpendapat sebaliknya. Namun di negara-negara berpenghasilan tinggi, pandangan negatif justru lebih mendominasi.
Di Amerika Serikat sebanyak 64 persen menganggap media sosial merugikan demokrasi. Pergeseran pandangan ini juga terlihat jelas di Indonesia, yang perubahannya termasuk yang paling tajam di kawasan Asia Tenggara, dikutip dari laporan resmi Pew, Jumat (2/10/2026).
Tiga tahun lalu, pada survei tahun 2023, sebanyak 64 persen warga Indonesia menilai media sosial membawa dampak yang baik bagi demokrasi. Angka itu kini turun menjadi 55 persen.
Sebaliknya, yang menganggap media sosial merugikan demokrasi naik tajam dari 24 persen menjadi 43 persen. Kenaikan sebesar 19 poin persentase ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan perubahan pandangan paling signifikan di kawasan maupun dunia.
Warga Indonesia merasakan dua sisi yang bertolak belakang secara bersamaan. Sebanyak 77 persen menyetujui bahwa media sosial membuat masyarakat lebih mengetahui peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
Sebanyak 55 persen juga merasa media sosial memberi suara yang lebih bermakna dalam kehidupan politik.
Namun di saat yang sama, 66 persen sepakat bahwa media sosial mempermudah menyebarkan informasi yang menyesatkan untuk mempengaruhi pandangan masyarakat. Selain itu, 55 persen merasa media sosial justru memecah belah pandangan politik di antara warga.
Di Indonesia, media sosial memainkan peran yang sangat besar dalam peristiwa politik dan pemilihan umum dalam beberapa tahun terakhir.
Penyebaran berita yang belum terverifikasi, narasi yang memecah belah, serta informasi yang menyesatkan kerap muncul berbarengan dengan peristiwa penting. Hal ini membuat warga makin merasakan dampak negatifnya secara langsung.
Di negara tetangga, meskipun tantangan serupa juga ada, pergeseran pandangannya belum secepat yang terjadi di Indonesia.
Kelompok usia muda di Indonesia cenderung lebih memandang sisi positif dibandingkan kelompok yang lebih tua.
Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman sehari-hari dalam menggunakan media sosial ikut membentuk pandangan seseorang. Bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial, ruang tersebut terasa lebih sebagai sarana berpartisipasi. Sementara bagi mereka yang lebih dewasa, perubahan suasana yang cepat dan kadang tidak terkendali terasa lebih mengkhawatirkan.















