ASPEK.ID – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Amerika Serikat dilaporkan telah memulai serangan militer terhadap Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat, menyusul pengumuman “serangan pendahuluan” oleh Israel ke arah Teheran.
Sejumlah media utama AS, termasuk CNN dan AFP, mengutip pejabat di Washington yang menyebut operasi tersebut merupakan langkah gabungan antara Washington dan Tel Aviv. Serangan itu diklaim bukan tindakan terbatas.
Salah satu pejabat AS yang berbicara kepada CNN menyebut, serangan-serangan yang dilakukan “bukan serangan kecil”. Ia menambahkan bahwa target utama saat ini adalah instalasi dan sasaran militer di wilayah Iran.
Meski demikian, pejabat tersebut menolak mengungkap detail teknis operasi dengan alasan misi militer masih berlangsung. Sumber lain di pemerintahan AS mengatakan bahwa operasi ini bertujuan meredam ancaman militer Iran sekaligus memastikan keamanan pasukan AS di kawasan.
Washington disebut telah lebih dulu menyiapkan langkah perlindungan terhadap personel militernya sebelum operasi dilancarkan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pentagon atau Departemen Pertahanan AS mengenai laporan tersebut.
Langkah ini menandai serangan kedua yang diperintahkan Presiden Donald Trump terhadap Iran dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Sebelumnya, pada Juni 2025, Washington menggempur sejumlah fasilitas nuklir utama Teheran ketika Iran terlibat konflik bersenjata dengan Israel. Aksi tersebut memicu kecaman internasional dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi perang terbuka di kawasan.
Situasi terbaru ini memperlihatkan bahwa dinamika konflik antara Iran dan Israel tidak lagi bersifat bilateral, melainkan telah melibatkan keterlibatan langsung Amerika Serikat secara militer.
Belum ada respons resmi dari otoritas Teheran terkait serangan terbaru ini. []
























