ASPEK.ID, WASHINGTON – Amerika Serikat kembali diguncang kasus sensitif terkait keamanan pertahanan. Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengumumkan penangkapan mantan perwira Angkatan Udara, Gerald Brown (65), atas dugaan memberikan pelatihan militer kepada Angkatan Udara China tanpa otorisasi resmi pemerintah.
Brown, mantan Mayor AU AS yang pernah menerbangkan jet tempur canggih F-35 Lightning II, ditangkap di Indiana pada Rabu (25/2). Ia didakwa memberikan serta berkonspirasi memberikan layanan pertahanan kepada personel militer China secara ilegal.
“Mantan pilot tempur elit ini diduga mengkhianati negaranya dengan melatih pilot China untuk melawan pihak yang sebelumnya ia sumpah untuk lindungi,” ujar Roman Rozhavsky, Asisten Direktur Divisi Kontraintelijen dan Spionase FBI, dalam pernyataan resmi, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (27/2).
Rozhavsky menegaskan bahwa Beijing secara aktif memburu dan memanfaatkan keahlian personel militer Barat—baik yang masih aktif maupun pensiunan—untuk mempercepat modernisasi kekuatan tempurnya.
“Penangkapan ini menjadi peringatan tegas,” katanya.
Jaksa AS untuk Distrik Columbia Jeanine Ferris Pirro juga menegaskan komitmen penegakan hukum terhadap pelanggaran semacam ini. “Brown dan siapa pun yang berkonspirasi melawan negara ini akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.
Menurut dokumen DOJ, Brown mengabdi selama 24 tahun di Angkatan Udara AS. Ia pernah memimpin misi tempur serta menangani unit-unit strategis, termasuk sistem yang berkaitan dengan pengiriman senjata nuklir.
Setelah pensiun pada 1996, ia berkarier sebagai pilot kargo komersial. Dalam beberapa tahun terakhir, Brown diketahui bekerja sebagai kontraktor pertahanan yang melatih pilot AS mengoperasikan jet tempur F-35 dan A-10.
Namun penyelidikan menyebut, ia mulai menjalin kerja sama dengan pihak China setelah melakukan perjalanan ke negara tersebut pada Desember 2023. Brown disebut menetap di sana hingga kembali ke AS pada awal Februari 2026, sebelum akhirnya ditangkap.
Kontrak pelatihan tersebut diduga dinegosiasikan oleh Stephen Su Bin—warga negara China yang pada 2016 pernah dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena terlibat peretasan kontraktor pertahanan AS untuk mencuri rahasia militer.
Pola yang Berulang
Kasus ini bukan yang pertama. Sebelumnya, mantan pilot Korps Marinir AS Daniel Duggan ditangkap di Australia pada 2022 atas tuduhan serupa: memberikan pelatihan kepada militer China tanpa izin, yang melanggar Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata AS.
Duggan kini masih berupaya melawan proses ekstradisi ke Amerika Serikat. Pengacaranya bahkan menyebut kasus tersebut sebagai preseden yang belum pernah terjadi dalam praktik hukum Australia, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Kekhawatiran soal perekrutan personel militer Barat oleh China juga telah disuarakan secara terbuka. Pada 2024, pemerintah AS bersama Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Inggris merilis peringatan bersama terkait upaya sistematis Beijing merekrut talenta militer Barat.
“Wawasan yang diperoleh Tentara Pembebasan Rakyat dari talenta militer Barat mengancam keselamatan individu yang menjadi sasaran, rekan-rekan dinas mereka, serta keamanan AS dan sekutunya,” bunyi pernyataan tersebut.
Pemerintah AS kembali menegaskan, setiap warga negara yang memberikan pelatihan atau keahlian militer kepada negara asing tanpa izin resmi dapat dikenai sanksi perdata maupun pidana.
Kasus Brown kini menjadi sorotan baru dalam ketegangan strategis antara Washington dan Beijing, terutama dalam isu perlindungan teknologi militer mutakhir dan keamanan nasional. []
























