Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, mengakui Aceh menjadi provinsi yang masih kurang maksimal terkait realisasi investasi. Investasi di Provinsi Aceh pada 2022 mencapai Rp 6,2 triliun.
Secara keseluruhan sepanjang 2022, realisasi investasi di Indonesia tembus Rp 1.207 triliun atau tumbuh 34 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
“Jujur saya katakan investasi di Aceh itu belum maksimal pada 2022 hanya Rp 6,2 triliun atau menempati peringkat 27 dari 34 provinsi,” kata Bahlil secara virtual saat Sharia Economic & Investment Outlook 2023 yang digelar BSI di banda Aceh, Rabu (25/1/2023).
Sebelum 2022, sebenarnya realisasi investasi di Aceh terus meningkat sejak 2017. Pada 2017 realisasinya Rp 1,1 triliun. Lalu naik menjadi Rp 1,9 triliun di 2018. Di 2019 bertambah lagi mencapai Rp 5,7 triliun. Kemudian menjadi Rp 9,0 triliun di 2020, dan naik lagi mencapai Rp 10,9 triliun di 2021.
Bahlil mengungkapkan sebenarnya sudah ada beberapa investor yang tertarik masuk ke Aceh. Namun, mereka tiba-tiba batal menanamkan investasinya. Bahlil mencontohkan salah satu investor tersebut adalah Uni Emirat Arab (UEA) yang awalnya tertarik membangun kawasan pariwisata halal di Aceh, tetapi tidak jadi.
“Kita ini penduduk muslim terbesar dunia, harapan kita investor Timur Tengah bisa datang, tapi ternyata realisasinya tidak sebaik dari apa yang mereka janji,” ujar Bahlil.
Selain dari Timur Tengah, Bahlil memastikan masih banyak negara yang tertarik masuk ke Aceh mulai dari Jepang, China, Amerika Serikat. Ia memastikan pihaknya akan mencari formulasi yang tepat agar negara-negara yang mau masuk investasi di Aceh bisa terealisasi.
“Saya sudah ke Qatar berkali-kali untuk (ajak) investasi di Aceh tapi sekali lagi mungkin kita cari formulasi lain,” kata Bahlil.














