ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi tetap stabil hingga Hari Raya Idul Fitri 2026. Kepastian ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di tengah lonjakan harga minyak global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Harga BBM untuk subsidi saya pastikan bahwa sampai hari raya (Idul Fitri) tidak ada kenaikan apa-apa, meskipun ada kenaikan harga minyak karena perang Israel – Amerika dengan Iran,” kata Bahlil, di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (4/2).
Lonjakan harga minyak dunia terjadi setelah memanasnya konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 10.00 WIB, harga minyak mentah acuan global Brent Crude tercatat di level US$82,03 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$74,95 per barel.
Jika dibandingkan posisi 24 Februari 2026, harga Brent yang kala itu masih di kisaran US$70,77 per barel telah melonjak lebih dari US$11 dalam waktu kurang dari dua pekan. WTI juga menunjukkan tren serupa, dari US$65,63 menjadi mendekati US$75 per barel.
Meski demikian, pemerintah menegaskan gejolak eksternal tersebut tidak akan berdampak pada harga BBM bersubsidi dalam negeri setidaknya hingga Lebaran.
Berbeda dengan BBM subsidi, Bahlil menegaskan harga BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar sebagaimana diatur dalam regulasi Kementerian ESDM.
“BBM non-subsidi memang mekanisme pasar sesuai Permen tahun 2022 daripada ESDM,” kata Bahlil.
Jenis BBM non-subsidi seperti Pertamax dan sejenisnya memang dievaluasi secara berkala setiap bulan, mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.
Selain memastikan stabilitas harga, pemerintah juga mengantisipasi aspek pasokan energi menjelang periode mudik dan Lebaran. Bahlil mengungkapkan telah menggelar rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN) untuk memastikan kecukupan stok BBM dan LPG.
“Jadi tidak ada keraguan sekalipun ada dinamika global di Iran dan Israel,” kata Bahlil.
Ia menyebutkan, stok BBM subsidi nasional saat ini berada di atas ambang aman, yakni setara 20 hari kebutuhan, sesuai standar ketahanan energi nasional.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis distribusi energi selama Ramadan hingga Idul Fitri 2026 tetap terkendali, meski tekanan global masih berlanjut. []























