ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap dua arahan utama dari Presiden Prabowo Subianto terkait pengelolaan komoditas batu bara nasional.
Arahan pertama menitikberatkan pada penerapan kebijakan relaksasi produksi yang tidak dilakukan secara bebas, melainkan tetap dalam kendali pemerintah. Langkah ini dimaksudkan agar produksi batu bara tetap selaras dengan kebutuhan, terutama untuk pasar domestik.
“Relaksasi terukur adalah batu bara merupakan sumber energi yang ada di kita dan karena itu kita akan mempertahankan kepentingan dalam negeri,” ungkap Bahlil, Sabtu (28/3).
Dalam kerangka tersebut, pemerintah memastikan pasokan batu bara tetap diprioritaskan untuk sektor strategis dalam negeri. Sejumlah BUMN seperti PLN, Pupuk Indonesia, dan Semen Indonesia menjadi fokus utama pemenuhan energi.
Arahan kedua berkaitan dengan pengelolaan keseimbangan antara suplai dan permintaan. Pemerintah ingin memastikan produksi batu bara tetap adaptif terhadap dinamika pasar global.
Jika harga batu bara mengalami penguatan, maka produksi yang sebelumnya ditahan dapat kembali ditingkatkan. Sebaliknya, saat kondisi pasar melemah, produksi akan dikendalikan.
“Kita harus memprioritaskan kepentingan domestik. Kita ingin PLN kita semua harus ada, pupuk. Kemudian industri-industri dalam negeri harus semua terpenuhi,” pungkasnya.
Dengan pendekatan ini, pemerintah menerapkan strategi fleksibel—mengombinasikan stabilitas pasokan dalam negeri dengan respons terhadap peluang pasar global. []
























