Oleh: Inas N Zubir
Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa biogasoline (campuran bensin dengan bioetanol) aman digunakan pada kendaraan berbahan bakar bensin. Kekhawatiran yang sering muncul berasal dari perbedaan sifat kimia antara etanol (bersifat polar) dan bensin (non-polar). Jika dicampur secara langsung tanpa pengolahan yang tepat, keduanya memang berpotensi mengalami phase separation atau pemisahan fase, di mana etanol memisah dari bensin, mirip dengan minyak dan air.
Selain itu, etanol yang masih mengandung air (etanol hidrat) bersifat higroskopis, yaitu mudah menyerap kelembapan dari udara. Hal ini dapat memicu korosi pada komponen sistem bahan bakar seperti tangki, pipa saluran, pompa, dan karburator/injector, terutama pada kendaraan yang tidak dirancang untuk bahan bakar beretanol.
Untuk mengatasi masalah tersebut, etanol yang digunakan dalam biogasoline harus berbentuk etanol anhidrat (kadar kemurnian ≥ 99,5% dan kadar air ≤ 0,5%). Proses kritisnya adalah dehidrasi, yaitu menghilangkan sisa air dari etanol hidrat (95–96%) hingga mencapai tingkat anhidrat. Metode yang paling umum dan efektif saat ini adalah menggunakan molecular sieves (zeolit).
Setelah melalui proses dehidrasi ini, etanol anhidrat dapat bercampur secara homogen dengan bensin dalam berbagai rasio tanpa mengalami pemisahan fase, selama tidak terkontaminasi air kembali.
Campuran ini justru membawa beberapa keunggulan teknis:
- Meningkatkan angka oktan bahan bakar;
- Memberikan efek pendinginan pada ruang bakar (charge cooling);
- Membakar lebih sempurna, sehingga mengurangi emisi CO, HC, dan partikulat;
- Lebih ramah lingkungan dibandingkan bensin murni.
Bukti nyata dapat dilihat pada Pertamax Green 95 yang dijual di SPBU Pertamina. Bahan bakar ini merupakan campuran E5 (5% bioetanol dari molase tebu + 95% bensin Pertamax). Hingga saat ini, tidak ditemukan tanda-tanda pemisahan fase pada produk tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa bioetanol yang digunakan telah melalui proses pengolahan yang memadai sesuai standar.
Secara teknis, penambahan 5% etanol anhidrat tidak menurunkan kualitas bahan bakar. Justru sebaliknya, etanol dengan angka oktan sekitar 108–110 dapat meningkatkan performa pembakaran mesin, memberikan akselerasi yang lebih responsif, dan menghasilkan emisi yang lebih bersih.
Dengan demikian, Masyarakat tidak perlu khawatir menggunakan biogasoline seperti Pertamax Green 95. Dengan teknologi pengolahan yang tepat, bahan bakar ini tidak hanya aman, tetapi juga lebih unggul dari segi performa dan keberlanjutan. Penggunaannya sekaligus mendukung program pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi dan pengurangan emisi karbon.
Karena itu, narasi bahwa bioetanol berbahaya bagi kendaraan perlu diluruskan. Teknologi ini bukan eksperimen baru. Banyak negara sudah menggunakan campuran etanol dalam bahan bakar selama bertahun-tahun, bahkan dengan kadar jauh lebih tinggi. Yang menentukan aman atau tidak bukan sekadar “ada etanolnya”, tetapi bagaimana standar produksinya dijaga.
Indonesia justru perlu mulai melihat biogasoline sebagai bagian dari strategi besar menuju ketahanan energi nasional. Ketika bahan bakar dapat dipadukan dengan energi nabati dalam negeri, maka ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil perlahan bisa ditekan. Di saat yang sama, emisi juga berkurang tanpa harus mengubah total ekosistem kendaraan yang ada saat ini.
Pada akhirnya, Pertamax Green 95 bukan sekadar soal bahan bakar baru. Ini adalah gambaran bahwa teknologi energi bisa bergerak ke arah yang lebih bersih tanpa mengorbankan performa mesin. Dan jika dikelola dengan standar yang tepat, biogasoline justru menjadi simbol modernisasi energi, bukan ancaman bagi kendaraan masyarakat.
























