ASPEK.ID, JAKARTA – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI Angkatan Udara (TNI AU), BPBD Kalimantan Timur, serta sejumlah instansi terkait menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan IKN. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi musim kering akibat El Nino yang meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Staf Khusus Kepala OIKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, mengatakan operasi tersebut difokuskan untuk menjaga ketersediaan air permukaan di wilayah IKN dan daerah penyangganya.
Menurut Danis, OMC merupakan teknologi penyemaian awan yang dilakukan secara terukur untuk mengoptimalkan potensi hujan. Pelaksanaannya bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Saat ini kita memasuki musim kering akibat dampak El Nino. Salah satu yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan air, sehingga dilakukan modifikasi cuaca untuk menambah volume air permukaan di wilayah IKN dan sekitarnya,” kata Danis dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).
Operasi modifikasi cuaca telah berlangsung sejak Jumat (21/8) hingga Senin (24/8). Selama periode tersebut, sudah dilakukan lima sortie penerbangan menggunakan pesawat Casa 212 A-2105 dari Lanud Dhomber, Balikpapan.
Dalam setiap penerbangan, pesawat membawa sekitar 800 kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam sebagai bahan semai yang disebarkan ke awan potensial.
Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan BMKG, Djoko Sumardiono, menjelaskan keberhasilan operasi sangat ditentukan oleh pertumbuhan awan, arah dan kecepatan angin, serta waktu penyemaian.
Ia menyebut Kalimantan Timur telah mengalami hampir dua pekan tanpa hujan, sehingga peluang terbentuknya awan hujan menjadi lebih terbatas.
“Untuk operasi kali ini, perkembangan awan di wilayah perbatasan utara Kalimantan Timur cukup baik untuk dilakukan penyemaian. Secara historis tingkat keberhasilan OMC pada musim kemarau sekitar 30 persen karena awan potensial relatif sedikit,” ujar Djoko.
Meski begitu, hasil awal operasi mulai terlihat. Berdasarkan data hingga Senin (24/8) pukul 10.00 WITA, hujan tercatat turun di Pos Curah Hujan Long Lebusan, Kabupaten Mahakam Ulu, pada Sabtu (22/8) dini hari dengan intensitas sekitar 20 milimeter. Hujan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Di kawasan IKN, operasi tersebut turut berdampak pada kenaikan muka air di intake Sungai Sepaku yang menjadi salah satu sumber air baku ibu kota baru. Elevasi muka air meningkat dari +2,04 meter menjadi +2,05 meter atau naik sekitar satu sentimeter.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Timur Buyung Dodi Gunawan mengingatkan ancaman karhutla masih tinggi selama musim kemarau.
Hingga Agustus 2026, BPBD mencatat 273 kejadian kebakaran lahan dengan total luas terdampak sekitar 752 hektare di Kalimantan Timur.
Menurut Buyung, penanganan karhutla tidak hanya dilakukan melalui pemadaman, tetapi juga upaya pencegahan dan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, sesuai surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup.
OIKN bersama BMKG, TNI AU, BPBD, dan instansi terkait akan terus memantau perkembangan cuaca, potensi awan hujan, serta kondisi hidrologis di kawasan IKN. Pelaksanaan OMC berikutnya akan disesuaikan dengan dinamika atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk penyemaian. []
















