ASPEK.ID, JAKARTA – Indonesia Investment Authority (INA) resmi memasuki fase kepemimpinan baru. Ridha Wirakusumah menuntaskan masa jabatan penuhnya sebagai Chief Executive Officer (CEO) pada 15 Februari 2026.
Sebagai tindak lanjut, Dewan Pengawas menunjuk Chief Financial Officer (CFO) INA, Eddy Porwanto, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) CEO terhitung mulai 16 Februari 2026.
Eddy bukan sosok baru di tubuh lembaga pengelola investasi negara tersebut. Sejak INA berdiri, ia memegang peran sentral dalam membangun fondasi tata kelola keuangan dan kerangka operasional institusi. Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang restrukturisasi korporasi dan investasi, Eddy dinilai memiliki kapasitas kuat untuk menjaga kesinambungan strategi lembaga.
“Sejak awal, kami membangun sebuah institusi yang dirancang untuk memberikan nilai jangka panjang bagi Indonesia. Kami menjaga keseimbangan antara disiplin komersial dan dampak nasional. Saya berkomitmen untuk melanjutkan hal tersebut dengan fokus yang konsisten bersama tim dan para mitra,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Rabu (25/2).
INA menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan mandat utama, yakni memobilisasi modal jangka panjang guna mendorong pembangunan nasional dan mendukung agenda prioritas strategis pemerintah.
Selama lima tahun pertama kepemimpinan Ridha, kinerja lembaga menunjukkan akselerasi signifikan. Aset kelolaan (assets under management/AUM) meningkat dua kali lipat dari US$ 5 miliar menjadi sekitar US$ 10 miliar. Dari jumlah tersebut, lebih dari US$ 4,5 miliar telah direalisasikan melalui skema co-investment bersama mitra global.
Investasi tersebut tersebar di sejumlah sektor prioritas, mulai dari jalan tol, pelabuhan, infrastruktur digital, layanan kesehatan, hingga energi hijau — sektor-sektor yang menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional.
Manajemen INA juga menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Ridha Wirakusumah yang dinilai berhasil meletakkan dasar kelembagaan yang kuat dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.
Dengan transisi ini, pelaku pasar menanti arah strategis berikutnya dari INA dalam menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperluas portofolio investasi di tengah dinamika ekonomi global. []























