Jakarta – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu kehati-hatian pelaku pasar pada perdagangan Senin (27/7/2026). Pelaku pasar memilih wait and see sambil mencermati proses transisi kepemimpinan bank sentral dan arah kebijakan moneter. Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah dan nyaris menyentuh level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS).
Per pukul 10.21 WIB, rupiah terdepresiasi 31 poin atau 0,17 persen menjadi Rp 17.994 per dollar AS. Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp 17.976 per dollar AS.
Indeks dollar AS (DXY) yang mengukur pergerakan dollar AS terhadap enam mata uang utama dunia justru melemah. Per pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,3 persen ke level 101,164. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat setelah sempat dibuka di zona merah. Per pukul 10.23 WIB, IHSG naik 20,543 poin atau 0,33 persen ke level 6.216,974.
IHSG dibuka pada level 6.185,799. Indeks menyentuh level terendah 6.144,274 sebelum berbalik naik hingga mencapai level tertinggi 6.219,418.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, investor cenderung mengambil sikap wait and see dalam jangka pendek.
“Dalam jangka pendek, investor cenderung menerapkan pendekatan wait and see, sehingga volatilitas di pasar saham maupun pasar obligasi berpotensi meningkat,” ujar Nafan dikutip dari Kompas.
Gubernur BI Menurut Nafan, besarnya dampak terhadap pasar bergantung pada alasan pengunduran diri Perry, mekanisme suksesi, serta kredibilitas sosok yang akan.
“Besarnya dampak akan sangat bergantung pada alasan pengunduran diri, mekanisme suksesi, serta kredibilitas sosok pengganti. Jika proses transisi berlangsung cepat, transparan, dan tetap menjaga independensi Bank Indonesia serta kesinambungan kebijakan moneter, maka tekanan terhadap pasar kemungkinan hanya bersifat sementara,” paparnya























