ASPEK.ID, JAKARTA – Empat kapal tanker milik anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan masih berada di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik yang melibatkan Iran dan sejumlah negara di sekitarnya.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan perusahaan terus melakukan pemantauan intensif terhadap situasi di lapangan, terutama menyangkut keselamatan awak kapal serta keamanan aset perusahaan.
“Manajemen terus memastikan keselamatan para awak kapal serta kondisi aset yang berada di sana,” ujar Baron, Rabu (4/3).
Ia menjelaskan, dari empat kapal tersebut, dua kapal berada di wilayah strategis Selat Hormuz—jalur pelayaran utama distribusi minyak dunia. Sementara dua kapal lainnya berada di luar selat tersebut, namun masih dalam kawasan Timur Tengah.
Menurut Baron, komunikasi dan koordinasi terus dilakukan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, guna memastikan perlindungan maksimal bagi awak kapal dan kelangsungan operasional.
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah belakangan ini menjadi perhatian serius pelaku industri energi global, mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu pusat pasokan minyak mentah dunia. Bagi Indonesia, sekitar 19 persen impor minyak mentah masih berasal dari kawasan tersebut.
Kendati demikian, Pertamina memastikan kondisi ketahanan energi nasional tetap terkendali. Perusahaan telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan, termasuk skema pengalihan suplai dan optimalisasi distribusi domestik.
“Untuk ketahanan energi nasional, Pertamina telah menyiapkan sistem dan strategi agar pasokan tetap terjaga,” pungkasnya. []























