FIFA mengungkap sederet fakta yang membahayakan jika rumput hibrid Jakarta International Stadium atau JIS dipertahankan. Sederet risiko besar penggunaan rumput hibrid pada JIS dipaparkan pihak FIFA.
Penggunaan rumput hibrid pada lapangan utama JIS tidak hanya berpotensi membuat stadion berkapasitas 82 ribu penonton itu tidak dapat digunakan sebagai venue Piala Dunia U-17 pada November-Desember mendatang.
JIS selama ini dibanggakan sebagai stadion terbesar di Asia Tenggara yang pembangunannya sudah sesuai standar FIFA. Termasuk penggunaan rumput hibrid yang disebut serupa dengan rumput lapangan Stadion Allianz Arena milik Bayern Munchen.
Bahkan, oleh pendukung eks Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, pembangunan JIS disebut rancangan Buro Happold. Belakangan, Buro Happold membantah ikut terlibat dalam perancangan maupun desain JIS. Buro Happold ternyata hanya memberikan panduan dan hanya bekerja selama tiga bulan.
Nah, terkait rumput hibrid JIS, surat elektronik FIFA memberikan uraian tentang kondisi lapangan utama JIS.
Surat dari FIFA kepada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi jawaban polemik rumput JIS yang selama ini disebut sudah sesuai standar FIFA.
Dalam surat elektronik tertanggal 20 Juli 2023, FIFA meminta PSSI menghilangkan rumput hibrid di JIS jika ingin menggunakannya sebagai venue Piala Dunia U-17.
Permintaan penggantian rumput hybrid di lapangan utama JIS merupakan rekomendasi Manajer Lapangan Senior FIFA, Alan Ferguson.
Sederet alasan atau pertimbangan rumput lapangan utama JIS harus direnovasi. FIFA menjadikan lapangan utama JIS dengan rumput hibrid yang tertanam sebagai perhatian utama.
Alan Ferguson menguraikan detail-detail pada lapangan utama JIS yang harus diperbaiki. Perhatian utama FIFA pada penghilangan rumput hibrid yang tertanam di JIS.
FIFA menilai penggunaan rumput hibrid berpotensi menimbulkan sejumlah masalah, seperti pertumbuhan akar yang tidak efektif. Proses perawatannya juga sulit.
“Kesulitan jika mempertahankan sistem seperti itu adalah bahwa efektivitas akar yang sulit mencapai bagian alas karpet terhalang lima centimeter antara zona akar atas dan zona akar bawah yang memberi pertumbuhan akar menjadi tidak efektif,” tulis FIFA.
FIFA juga memberikan catatan terhadap dampak penggunaan rumput hybrid setelah pertandingan. Sistem hybrid pada penanaman rumput di stadion JIS dinilai dapat merugikan kualitas lapangan setelah pertandingan.
“Karena beberapa kerugian yang disebutkan di atas, sistem hybrid berbasis karpet saat ini akan menimbulkan risiko besar bagi turnamen,” tulis FIFA dalam surat tersebut.
“Dan dapat mengakibatkan lapangan pada Jakarta Internasional Stadium saat ini tidak dapat direkomendasikan sebagai tempat pertandingan untuk Piala Dunia U-17 2023. Sistem karpet seperti itu harus dihilangkan,” tambah surat itu.
Rencananya, FIFA akan ke Indonesia untuk melakukan inspeksi ke stadion yang akan diusulkan sebagai venue Piala Dunia U-17 mulai 28 Juli sampai dengan 2 Agustus 2023.
Sementara itu, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menjelaskan bahwa pembenahan soal Jakarta International Stadium (JIS) berdasarkan surat dari FIFA.
JIS polemik setelah stadion itu diajukan untuk menjadi salah satu calon tempat berlangsungnya Piala Dunia U-17 sebab stadion lain di Jakarta, yakni Stadion Gelora Bung Karno, akan menjadi tempat berlangsungnya konser musik band Coldplay pada 15 November mendatang.
Namun pada tinjauan berikutnya, Erick sempat menyatakan bahwa JIS terkendala akses penonton untuk Piala Dunia U-17.
Selain itu Menteri PUPR Basuki Hadimuljono juga sempat mengutip pernyataan seorang pakar yang menyebut bahwa rumput stadion tersebut perlu diperbaiki agar sesuai standar FIFA.
“Alhamdulillah tanggal 20 Juli kita sudah menerima surat dari FIFA. Beberapa catatan yang harus segera kita tindak lanjuti sebelum FIFA mengecek tanggal 28 (Juli) sampai 2 Agustus rencananya,” ungkap Erick Thohir.
Setelah menerima surat FIFA terkait rekomendasi rumput JIS, Erick Thohir segera meresponsnya. “Tentu karena surat tersebut saya juga melayangkan surat kepada Bapak Menpora, untuk tanggal 24 Juli untuk segera mulai mengirim surat kepada PUPR, untuk renovasi yang diperlukan sesuai dengan catatan FIFA dan memang mereka akan turun ke lapangan mengecek sekali lagi,” kata Erick pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (25/7).
Erick menambahkan bahwa dalam kunjungan tersebut FIFA akan memeriksa berbagai hal seperti kesiapan tempat, kualitas lapangan, kesiapan tim penunjang, dan lain-lain.
Rumput memang menjadi salah satu pokok perhatian terkait Piala Dunia U-17, sebab Erick menyatakan dalam surat FIFA disebutkan bahwa rumput yang ada harus diperbaiki untuk menghindari risiko yang besar.
Menteri BUMN itu juga mengatakan bahwa sejak awal PSSI mengusulkan delapan stadion penyelenggara Piala Dunia U-17 kepada FIFA.
Sebanyak enam di antaranya merupakan stadion-stadion yang direncanakan untuk menjadi arena bertanding Piala Dunia U-20, sedangkan dua stadion lagi agar lebih banyak lapangan berstandar internasional.
“Nah kebetulan ini kan ada kejuaraannya. Dari situ tentu proses dari FIFA mengecek. Mengeceknya bagaimana? ya mereka ada konsultannya dikirim. Jadi kita gak usah polemik, Konsultan ini kan ada surat penunjukan dari FIFA, bukan kita yang menunjuk. Nah dari pantauan FIFA, catatannya memang ada, satu contoh yang ada di stadion ini harus ada perbaikan ini,” tutup Erick.
























