ASPEK.ID, JAKARTA – HSBC berencana melakukan PHK terhadap 35 ribu karyawan sejalan dengan reorganisasi serta perbaikan bisnis besar-besaran perusahaan.
Restrukturisasi total itu rencananya bakal dipercepat karena HSBC sedang berada dalam berbagai tekanan dari suku bunga yang sangat rendah, ketegangan geopolitik hingga dampak ekonomi dari pandemi virus corona.
Kreditur HSBC yang berbasis di London mengatakan pendapatan turun 11 persen pada kuartal ketiga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba sebelum pajak turun 36 persen menjadi US$3,1 miliar.
CEO HSBC Noel Quinn menyampaikan bahwa perusahaan baru saja menawarkan pembaruan soal rencana PHK dan reorganisasi tersebut hari ini, Selasa (27/10).
Ia juga mengatakan perombakan unitnya di Amerika Serikat dan Eropa telah berlangsung dan berada di jalur yang tepat. HSBC berharap dapat memangkas lebih banyak biaya dan melepaskan lebih banyak aset.
“Kami mempercepat transformasi grup, mengalihkan fokus kami dari lini bisnis yang sensitif terhadap suku bunga ke bisnis yang menghasilkan dan selanjutnya mengurangi biaya operasional kami,” ujar Quinn.
HSBC meyakinkan andalan bisnis perusahaan di Asia tidak akan berubah. Perusahaan telah berjanji untuk mengalihkan lebih banyak sumber daya di sana, karena di situlah mereka memperoleh sebagian besar keuntungannya.
Mereka juga berencana untuk meningkatkan lebih banyak investasi di wilayah tersebut, terutama di Wilayah Teluk Besar China dan Asia Selatan. Area yang akan menjadi fokus HSBC mencakup manajemen kekayaan, pembiayaan perdagangan, dan keuangan berkelanjutan.
“Aktivitas klien HSBC [juga] telah menunjukkan ketahanan hingga kuartal ketiga,” tulis bank tersebut.
Kendati demikian, mereka tak memungkiri bahwa fokus barunya ke Asia merupakan keharusan. Pasalnya, peningkatan risiko geopolitik di Asia dan bisa berdampak pada sektor keuangan khususnya dalam hal profitabilitas dan prospek pertumbuhan.
























