ASPEK.ID – Kementerian Pertahanan Inggris memastikan bahwa drone yang menyerang Pangkalan Angkatan Udara Inggris di Akrotiri, Siprus, tidak diluncurkan dari Iran.
Klarifikasi tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi yang dipublikasikan di akun media sosial X milik Kementerian Pertahanan Inggris pada Kamis (5/3).
Dalam pernyataannya, London menyebutkan bahwa jet tempur Typhoon dan F-35B milik Angkatan Udara Inggris tetap menjalankan patroli pertahanan udara di kawasan Timur Tengah. Operasi tersebut juga didukung oleh pesawat pengisi bahan bakar udara Voyager.
“Jet Typhoon dan F-35B Angkatan Udara Inggris terus melaksanakan operasi pertahanan udara di seluruh Timur Tengah dengan dukungan pesawat Voyager untuk melindungi kepentingan Inggris dan sekutunya,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pemerintah Inggris juga menegaskan bahwa drone yang menyerang pangkalan tersebut memang memiliki kemiripan dengan drone tempur tipe Shahed. Namun, mereka memastikan perangkat itu tidak diluncurkan dari wilayah Iran.
“Kementerian Pertahanan dapat mengonfirmasi bahwa drone yang menyerupai jenis Shahed yang menargetkan pangkalan AU Inggris di Akrotiri pada tengah malam Selasa, 2 Maret 2026, tidak berasal dari Iran,” lanjut pernyataan itu.
Pernyataan tersebut sekaligus membantah berbagai laporan sebelumnya yang menyebut Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan drone tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Inggris juga memperkuat sistem pertahanan udara di pangkalan militernya serta fasilitas militer sekutu di kawasan tersebut. Dalam 24 jam terakhir, sejumlah peralatan pertahanan udara tambahan telah dikirimkan, termasuk rudal pertahanan udara milik Inggris.
Selain itu, Inggris berencana mengerahkan helikopter Angkatan Laut jenis Wildcat yang dipersenjatai rudal Martlet untuk menghadapi potensi ancaman udara di wilayah tersebut.
Meski demikian, hingga kini pemerintah Inggris belum mengungkap secara pasti dari mana drone tersebut diluncurkan.
Pangkalan udara Akrotiri terletak di wilayah barat daya kota pesisir Limassol, di Pulau Siprus. Fasilitas ini merupakan salah satu dari dua pangkalan militer yang tetap dipertahankan Inggris sejak Siprus memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 1960.
Selain berfungsi sebagai fasilitas militer strategis, kawasan pangkalan tersebut juga menjadi tempat tinggal bagi keluarga personel militer Inggris yang bertugas di sana.
Sebelumnya, otoritas pangkalan sempat mengimbau warga di sekitar Akrotiri untuk tetap berada di tempat perlindungan setelah muncul laporan dugaan serangan drone.
Sebagai langkah pengamanan tambahan, sebagian personel non-esensial juga dipindahkan dari area pangkalan. Meski demikian, fasilitas militer Inggris lainnya di kawasan tersebut dilaporkan tetap beroperasi normal.
Pangkalan Akrotiri sendiri selama ini menjadi basis penting bagi berbagai operasi militer Inggris di Timur Tengah, termasuk misi di Irak, Suriah, dan Yaman. []
















