ASPEK.ID, JAKARTA – Jembatan Semanggi merupakan salah satu ikon Kota Jakarta, disamping tempat atau bangunan lain seperti Monumen Nasional (Monas) dan Monumen Selamat Datang dan Bundaran HI, serta Gelora Bung Karno (GBK).
Jembatan Semanggi adalah jembatan layang yang berada di persimpangan antara Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto. Dinamakan Semanggi karena bentuknya yang menyerupai daun semangggi dan juga wilayah pembangunannya dahulu merupakan daerah rawa yang dipenuhi semanggi.
Jembatan Semanggi telah mengalami revitalisasi pada 2016. Simpang Susun Semanggi terdiri dari dua ramp, yakni dari arah Cawang menuju Bendungan Hilir hingga Bundaran HI dan arah Tomang menuju Blok M.
Sementara kupingan Semanggi hanya dapat digunakan untuk kendaraan berputar dari arah Slipi kembali ke arah Slipi dan dari arah Cawang kembali ke Cawang serta gerakan belok kanan dari Blok M menuju Cawang dan dari Bendungan Hilir menuju Slipi-Tomang.
Proyek Jembatan Semanggi dimulai pada tahun 1961, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Filosofi bentuk daun semanggi dipilih karena dianggap simbol persatuan bangsa. Empat bagian daun menyerupai suku-suku yang ada di Indonesia, kemudian disatukan menjadi satu kesatuan daun yang utuh.
Jembatan ini digagas penuh dan dibangun oleh Prof. Dr. (H.C.) Ir. Sutami, Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Tbk yang menjabat pada periode 1961-1966. Dia meninggal pada 13 November 1980 di usianya yang baru menginjak 52 tahun.
Kala itu, Sutami yang baru berusia 33 tahun dan baru diangkat sebagai Dirut Hutama Karya, mengusulkan kepada Presiden Soekarno agar Jembatan Semanggi dibangun menggunakan konstruksi beton prategang (prestressed concrete) tanpa menggunakan tiang.
Usulan itu dianggap sangat aneh karena belum ada di Indonesia. Teknik konstruksi yang dikenal dengan istilah prestressed-concrete, adalah sebuah teknik yang bisa meregangkan beton dan bahkan belum diajarkan di perguruan tinggi.
Soekarno lantas mengirim Sutami ke Jerman untuk melihat contoh jembatan yang ada di sana. Pembangunan Jembatan Semanggi dinilai mendesak, terlebih Indonesia akan menyambut perhelatan Asian Games IV 1962.
Sepulang dari Jerman, Sutami kemudian berhasil membangun Jembatan Semanggi. Kesuksesannya itu membuat sejumlah pihak yang awalnya menyanggah dan ragu dengan pembangunan itu, malah balik memujinya.
Presiden Soekarno selanjutnya juga menugaskan Sutami untuk mengerjakan sejumlah proyek yang diberi nama Proyek Mercusuar kala itu, termasuk Gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces) pada 1965 yang berubah nama menjadi Gedung DPR/MPR.
Sutami juga merupakan orang yang memimpin proyek pembangunan Jembatan Ampera di Sungai Musi, Palembang serta pembangunan Monumen Pembebasan Irian Barat.
Profil Singkat
Prof. Dr. (H.C.) Ir. Sutami atau Soetami yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Oktober 1928 – meninggal di Jakarta, 13 November 1980 pada umur 52 tahun, adalah seorang insinyur sipil yang pernah menjabat Menteri Pekerjaan Umum Indonesia.
Sejak tahun 1964 pada Kabinet Dwikora I masa pemerintahan Presiden Soekarno sebagai Menteri Negara diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk urusan penilaian konstruksi hingga tahun 1978 pada Kabinet Pembangunan II masa pemerintahan Presiden Soeharto selama 13,5 tahun.
Ir. Sutami adalah Menteri Pekerjaan Umum “terlama” dengan masa jabatan selama 12 tahun pada 6 kabinet dihitung sejak menjabat Menteri Koordinator Kompartimen Pekerjaan Umum dan Tenaga pada Kabinet Dwikora II (22 Februari 1966).
Lulusan Teknik Sipil ITB tahun 1956 ini sudah terkenal cerdas sejak menempuh pendidikan dasar dan menengah di Solo, salah satunya di SMA Negeri 1 Surakarta.
Menteri PU dan Tenaga Listrik 1973-1978 ini tutup usia pada 13 November 1980. Namanya diabadikan menjadi sebuah waduk di Kabupaten Malang, Jawa Timur dan juga di Mbay kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, yakni Bendungan Ir Sutami.























