ASPEK.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan serangan baru yang menyasar Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut, Kamis (5/3) pagi waktu setempat.
Serangan ini disebut sebagai respons atas insiden tenggelamnya kapal perang Iran yang dilaporkan dihantam torpedo kapal selam Amerika Serikat di perairan dekat Sri Lanka sehari sebelumnya.
Teheran menegaskan bahwa operasi militernya belum akan berhenti. Pemerintah Iran bahkan mengancam akan memperluas serangan dengan menargetkan berbagai infrastruktur militer maupun ekonomi di wilayah Timur Tengah.
Di Israel, militer mengonfirmasi sejumlah rudal diluncurkan menuju wilayah negara tersebut. Sirene peringatan serangan udara terdengar di beberapa kota besar, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem, memicu kepanikan warga.
Di saat yang sama, Israel juga meningkatkan operasi militernya di Lebanon. Pasukan Israel dilaporkan melancarkan serangan di wilayah pinggiran selatan Beirut yang diyakini menjadi basis kelompok bersenjata Hezbollah.
Situasi ini semakin memperlihatkan eskalasi konflik setelah Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menggempur Iran dalam operasi militer yang dimulai pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk sistem persenjataan rudal, struktur kepemimpinan militer, hingga program nuklir negara tersebut.
Washington dan Tel Aviv sempat menyatakan bahwa operasi militer itu juga bertujuan melemahkan bahkan menggulingkan pemerintahan Iran. Namun hingga kini, tujuan operasi tersebut terus berubah seiring dinamika di lapangan, menandakan potensi konflik yang berkepanjangan.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga meluncurkan serangan rudal ke beberapa negara di kawasan, di antaranya Bahrain, Kuwait, dan Turki.
Dampak konflik ini semakin meluas. Laporan terbaru menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas di Iran, sementara korban jiwa di Lebanon mencapai lebih dari 70 orang. Di Israel, sedikitnya belasan orang dilaporkan meninggal akibat serangan tersebut.
Selain korban jiwa, perang ini juga mulai mengguncang stabilitas global. Gangguan terhadap pasokan minyak dan gas dunia, terhambatnya jalur pelayaran internasional, hingga ratusan ribu turis yang terjebak di kawasan Timur Tengah menjadi dampak yang mulai terasa. []
















