ASPEK.ID, TEHERAN – Pemerintahan Iran bergerak cepat menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan yang disebut dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Otoritas negara itu kini membentuk dewan kepemimpinan sementara untuk menjaga stabilitas dan memastikan roda pemerintahan tetap berjalan.
Mengacu pada konstitusi Iran, kekuasaan tertinggi akan dipegang sementara oleh dewan yang terdiri dari presiden, kepala peradilan, dan seorang ulama senior dari Dewan Penjaga hingga Majelis Ahli memilih pemimpin baru secara resmi.
Mengutip laporan CNN, dewan tersebut diketuai Ayatollah Alireza Arafi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta Kepala Peradilan Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i.
Arafi dikenal sebagai ulama berpengaruh yang memiliki rekam jejak panjang dalam struktur pemerintahan dan disebut sebagai figur dekat Khamenei. Saat ini ia menjabat Wakil Ketua Majelis Ahli serta menjadi anggota Dewan Penjaga—lembaga strategis yang berwenang menyaring kandidat pemilu dan mengawasi legislasi parlemen.
Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama nantinya akan menentukan siapa yang akan menggantikan posisi pemimpin tertinggi secara permanen.
Di tengah transisi kekuasaan, nada keras langsung menggema dari elite politik Teheran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa kematian Khamenei tidak akan dibiarkan tanpa respons.
“Amerika telah menusuk jantung rakyat Iran dan kami akan menusuk jantung mereka,” kata Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Ia berjanji akan melakukan pembalasan lebih lanjut terhadap AS dan Israel, dengan mengatakan bahwa “reaksi dari angkatan bersenjata kami akan jauh lebih kuat.”
Presiden Masoud Pezeshkian turut menegaskan bahwa pembalasan merupakan hak sah Iran. Pemerintahannya memandang respons terhadap serangan tersebut sebagai kewajiban konstitusional dan bentuk pertahanan kedaulatan negara.
Situasi di kawasan Timur Tengah pun diperkirakan semakin memanas. Dengan struktur kepemimpinan baru yang telah terbentuk dan pernyataan keras dari para pejabat tinggi, Iran memberi sinyal bahwa eskalasi konflik berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. []
























