ASPEK.ID, TEHERAN – Pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei. Kabar duka itu disampaikan media pemerintah dengan suasana emosional; seorang presenter televisi bahkan tampak menitikkan air mata saat membacakan pengumuman resmi kepada publik.
Mengutip laporan BBC News edisi Minggu (1/3), Iran akan menjalani masa berkabung nasional selama 40 hari. Otoritas setempat menyebut Khamenei gugur sebagai martir dalam serangan yang disebut dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama sejumlah pejabat Israel telah lebih dulu mengumumkan bahwa Khamenei tewas dalam operasi militer yang dilancarkan kedua negara tersebut.
Kematian Khamenei menjadi pukulan besar bagi Republik Islam Iran. Ia memimpin sejak 1989 dan menjadi figur sentral dalam menjaga arah ideologi serta stabilitas politik negara tersebut pascarevolusi Islam. Kepemimpinannya berlangsung hampir empat dekade, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di Timur Tengah dalam era modern.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa sejumlah anggota keluarga Khamenei turut menjadi korban dalam rangkaian serangan tersebut. Disebutkan bahwa anak perempuan, cucu perempuan, menantu perempuan, serta menantu laki-lakinya termasuk di antara korban yang meninggal dunia.
Reaksi keras datang dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars dan dilansir Al Jazeera, IRGC menyatakan, “kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya”.
Pernyataan itu menambahkan bahwa “kemartiran Khamenei di tangan teroris paling kejam dan algojo kemanusiaan adalah tanda legitimasi pemimpin besar ini dan penerimaan atas pengabdiannya yang tulus”.
Lebih jauh, IRGC menegaskan bahwa “tangan pembalasan bangsa Iran…tidak akan membiarkan mereka lolos”.
Korps elite tersebut juga menyatakan akan berdiri “tegas dalam menghadapi konspirasi domestik dan asing,” mengisyaratkan bahwa dinamika keamanan regional berpotensi memasuki fase yang jauh lebih intens. []
























