ASPEK.ID, JAKARTA – Raksasa produsen mobil asal Jerman, BMW merugi sebesar 212 juta euro atau sekitar Rp 3,646 triliun (kurs Rp 17.200 per euro) pada Kuartal II Tahun 2020.
Hal ini disebabkan karena penutupan pandemi virus corona memangkas penjualan kendaraan hingga seperempat pada periode April-Juni.
Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan dengan keuntungan sebesar 1,48 miliar euro atau sekitar Rp 25,456 triliun yang diraup perusahaan pada periode yang sama tahun lalu.
CEO BMW Oliver Zipse mengatakan bahwa dia optimistis secara hati-hati tentang paruh kedua tahun ini dan memprediksi pembuat mobil itu masih akan mendapat untung dengan menjual mobil.
“Daya tanggap yang cepat dan strategi pengelolaan yang konsisten memungkinkan kami membatasi dampak pandemi corona selama paruh pertama tahun ini,” katanya dalam sebuah keterangan, Rabu (5/8).
Tren positif sedang muncul di China, yang sebelumnya terkena virus tetapi juga dibuka kembali lebih cepat. Penjualan di China naik 17 persen di kuartal kedua dibandingkan dengan kuartal tahun sebelumnya.
Penjualan mobil merek BMW, Mini dan Rolls-Royce turun 25 persen menjadi 485.500 unit. Penurunan penjualan ini berdampak pada turunnya pendapatan sebesar 10 persen menjadi 43,2 miliar euro.
Perusahaan juga harus menghentikan produksi di usaha patungan BMW Brilliance Automotive Ltd di Shenyang dari akhir Januari hingga pertengahan Februari, sementara pabrik Eropa dan fasilitas manufakturnya di Spartanburg, Carolina Selatan ditutup dari pertengahan Maret hingga pertengahan Mei.
BMW, adalah sebuah perusahaan otomotif Jerman yang memproduksi mobil dan sepeda motor. BMW didirikan pada tahun 1916 oleh Franz Josef Popp. BMW AG adalah perusahaan induk dari merk mobil MINI dan Rolls-Royce, dan, dulunya Rover.
BMW dikenal sebagai salah satu perusahaan mobil mewah dengan performa tinggi, dan juga salah satu perusahaan mobil pertama yang menggunakan teknologi ABS.























