ASPEK.ID, JAKARTA-Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, pusat perbelanjaan di Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif baik. Namun, fungsi mal kini mulai bergeser. Tak lagi sekadar menjadi tempat berbelanja, mal semakin berperan sebagai ruang berkumpul dan berinteraksi sosial.
Alphonzus Widjaja mengatakan, kondisi pusat perbelanjaan secara umum masih terjaga jika dilihat dari tingkat kunjungan dan okupansi atau keterisian gerai.
“Saat ini rata-rata tingkat kunjungan ke Pusat Perbelanjaan masih terus tumbuh setiap tahunnya meski tidak signifikan. Masyarakat Indonesia memiliki budaya senang berkumpul di mana salah satu tempatnya adalah di Pusat Perbelanjaan,” kata Alphonzus dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (8/11/2026).
Alphonzus menyebut tingkat okupansi pusat perbelanjaan saat ini masih berada di kisaran 85%-90%. Meski demikian, perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi aktivitas bisnis di dalam mal, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
“Hanya saja sekarang ini fungsi Pusat Perbelanjaan bukan lagi hanya sekedar sebagai tempat berbelanja tetapi lebih kepada hub koneksi sosial (social connection hub),” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan masyarakat berbelanja dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan mingguan atau bulanan di supermarket kini jauh berkurang.
“Sebelumnya masyarakat biasanya membeli kebutuhan dalam jumlah relatif cukup banyak, seperti belanja mingguan dan belanja bulanan di supermarket, yang mana sekarang tren ini sudah jauh berkurang,” kata Alphonzus.
Perubahan tersebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha supermarket, untuk menyesuaikan strategi bisnis dengan kebiasaan konsumen yang terus berkembang.















