ASPEK.ID, JAKARTA – Maskapai penerbangan AS rugi US$12 miliar ( Rp174 triliun, mengacu kurs Rp 14.500 per dolar AS). Kerugian besar pada kuartal II 2020 karena covid-19.
Kerugian besar ini dipicu penurunan pendapatan hingga 86 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sejumlah analis memprediksi kerugian masih berlanjut pada kuartal III 2020, yakni US$10 miliar. Sedangkan penjualan diproyeksi anjlok 75 persen pada periode Juli- September 2020.
Maskapai penerbangan AS telah berupaya memangkas kerugian dengan mengurangi sejumlah pos biaya, termasuk tenaga kerja.
Sebagian karyawan terpaksa mengambil pensiun dini, cuti tidak dibayar, hingga mengalami PHK.
Ada kenaikan perjalanan selama musim panas. Namun, kenaikan tipis itu belum mampu memulihkan kondisi yang terpuruk pada kuartal II 2020. Sementara itu, pesanan perjalanan untuk musim gugur belum terlihat.
Sebelumnya, maskapai penerbangan AS menerima pinjaman US$25 miliar tanpa bunga untuk menghindari PHK. Namun, setelah larangan PHK paksa berakhir pada 1 Oktober, American Airlines (AAL) langsung memangkas 19 ribu pekerjaan dan United (UAL) memangkas 13 ribu pekerjaan.
“Kami tidak berharap enam bulan dari sekarang permintaan akan kembali seperti sebelum pandemi,” kata CEO American Airlines Doug Parker dalam wawancara dengan CNN pada akhir September lalu dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (13/10/2020).





















