ASPEK.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan potensi lonjakan inflasi sebagai dampak eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, menilai jalur strategis tersebut merupakan kunci distribusi energi global. Gangguan di titik ini berisiko langsung mendorong kenaikan harga energi dunia.
Efeknya tidak berhenti di sektor energi. Kenaikan harga bahan bakar akan merembet ke biaya distribusi, harga bahan baku, hingga pangan—yang pada akhirnya memperbesar tekanan inflasi baik global maupun domestik.
“Hal ini tentu akan meningkatkan tekanan inflasi baik global maupun domestik,” ujar Dian dalam konferensi pers, Senin (6/4).
Menurutnya, tekanan inflasi berpotensi memicu respons kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini bisa berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi karena konsumsi masyarakat dan aktivitas produksi ikut melemah.
Di sisi lain, kenaikan biaya hidup di tengah permintaan yang melemah akan menekan margin keuntungan korporasi. Risiko pun meningkat, terutama terkait kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi kewajiban keuangan.
“Kenaikan harga energi dan tekanan inflasi ini dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi pada sektor usaha juga serta menurunkan profitabilitas perusahaan dan kemampuan membayar debitur serta daya beli masyarakat,” jelasnya.
Dampak lanjutan diperkirakan akan terasa pada sektor keuangan. Penurunan daya beli berisiko meningkatkan kredit bermasalah, terutama pada segmen UMKM dan kredit konsumsi yang paling sensitif terhadap gejolak ekonomi.
Dalam situasi seperti ini, perbankan cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Hal tersebut berpotensi menahan laju pertumbuhan kredit dalam jangka pendek sekaligus meningkatkan risiko non performing loan (NPL).
Meski demikian, OJK menegaskan bahwa fundamental perbankan nasional masih dalam kondisi kuat dan berada di atas standar praktik internasional.
“Ini sudah pernah saya sampaikan di beberapa kesempatan dengan teman-teman media bahwa sebetulnya standar-standar keuangan kita itu kalau dibandingkan dengan international best practice sendiri sebetulnya kita jauh sekali di atas standar itu ya,” pungkas Dian. []























