ASPEK.ID, JAKARTA – PT Dirgantara Indonesia atau PTDI (Persero) melihat masih banyak peluang bagi pasar industri dirgantara di Indonesia.
Direktur Utama PTDI Elfien Guntoro mengatakan hal tersebut bukan tanpa alasan mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, di mana negara kepulauan membutuhkan transportasi melalui moda transportasi laut dan udara.
“Menurut data dari PricewaterhouseCoopers (PwC), kita melihat terdapat sekitar lebih dari 4.000 rute penerbangan pengumpan atau spoke to spoke namun yang terisi baru 529 rute dengan 223 rute di antaranya masih banyak yang utilisasi load factor-nya rendah,” ujar Elfien dalam diskusi daring dilansir dari laman Antara di Jakarta, Jum’at (7/8).
Disebutkannya, produk-produk pesawat PTDI seperti pesawat NC212 maupun CN-235 maupun nanti N245 sangat kompetitif untuk mengisi rute penerbangan spoke to spoke tersebut.
“Selain itu bisnis yang bisa juga kita tingkatkan yakni bisnis perawatan dan perbaikan atau maintenance, repair, and overhaul (MRO),” katanya.
MRO ini perlu ditingkatkan karena ini satu-satunya yang bisa recurring income sehingga bisnis MRO sangat bagus bagi PTDI.
Dalam paparannya, PTDI disebutkan Elfien melakukan skenario bisnis baru untuk tetap bertahan menghadapi pandemi covid19 sehingga tetap melanjutkan bisnis kedirgantaraan.
“Tentunya strategi yang terkait dengan kondisi semua ini, kita harus melakukan skenario bisnis baru,” kata Elfien.
Hal tersebut dilakukan melalui kajian terhadap pasar, pelanggan, pemasok, mitra, sehingga ujung-ujungnya kita melakukan bisnis dan sistem pembayaran sehingga ketemu dengan bisnis apa yang paling sesuai dengan kondisi Covid-19.
PTDI juga merupakan satu satunya industri pesawat terbang di Indonesia yang mempunyai potensi sangat besar untuk memenuhi kebutuhan alat transportasi di Negara kepulauan terbesar di dunia ini.
“PTDI bisa menjadi sarana untuk mengembangkan kapabilitas dan/atau kompetensi dibidang kedirgantaraan dan dapat bersaing dengan negara lain,” tandasnya.
Profil PT DI
PT Dirgantara Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia juga di wilayah Asia Tenggara. PT Digrantara Indonesia ini sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.
PTDI didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur. Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. Setelah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.
Dirgantara Indonesia tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan maintenance service untuk mesin-mesin pesawat serta menjadi sub-kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Boeing, Airbus, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya.
















