ASPEK.ID, JAKARTA – The Boeing Company, pabrikan pesawat asal Amerika Serikat (AS), mengeluarkan buletin teknis yang ditujukan kepada maskapai penerbangan.
Boeing mengingatkan maskapai penerbangan untuk memastikan pilot mereka memantau dengan cermat keadaan pesawat dan jalur penerbangan untuk mencegah hilangnya kendali dalam penerbangan.
Buletin ini dikeluarkan setelah Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis laporan investigasi awal tentang kecelakaan pesawat Boeing model 737-500 milik armada Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta-Pontianak pada Sabtu (9/1) lalu, yang menewaskan 62 orang.
Buletin tersebut membahas salah satu bidang potensial yang penting bagi penyelidik setelah kecelakaan itu, sambil menunggu penemuan Cockpit Voice Recorder (CVR).
Boeing sebelumnya menuai kritik karena menyalahkan pilot atas kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX Lion Air JT 610 pada 2018 silam di perairan Karawang, yang kemudian dikaitkan dengan sistem yang salah.
Menurut analisis keselamatan industri yang dikeluarkan oleh Airbus SE tahun lalu, kehilangan kendali dalam penerbangan merupakan penyebab terbesar – atau 33 persen – dari semua kecelakaan pesawat sejak dimulainya era jet.
Laporan investigasi awal KNKT menemukan pesawat dengan rute penerbangan Jakarta – Pontianak itu mengalami ketidakseimbangan dalam dorongan mesin yang akhirnya berbelok tajam dan kemudian jatuh ke laut.
Ketika pesawat mencapai ketinggian 8.150 kaki setelah lepas landas, tuas pengatur tenaga mesin (throttle) sebelah kiri bergerak mundur (tenaga berkurang) sedangkan yang kanan tetap.
Salah satu pilot berbicara kepada pengawas lalu lintas udara (ATC) dan tidak ada bukti dalam laporan bahwa mereka melihat perbedaan daya dorong.
FDR (flight data recorder) merekam ketinggian tertinggi pesawat yaitu 10.900 kaki. Kemudian pesawat mulai turun, autopilot tidak aktif ketika arah pesawat di 016 derajat.
Sikap
pesawat posisi naik (pitch up)
dan pesawat miring ke kiri (roll).
Tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri kembali berkurang sedangkan yang ke
kanan tetap.
FDR mencatat auto throttle tak
berfungsi dan pesawat menunduk ke depan. Lalu 20 detik kemudian FDR berhenti
merekam, kata laporan itu. (DW)
























