ASPEK.ID, JAKARTA – Harga emas dunia mengalami tekanan dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar Amerika Serikat menjelang rapat kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve. Kendati demikian, sejumlah analis menilai pelemahan tersebut bersifat sementara dan tidak mengubah prospek kenaikan emas dalam jangka panjang.
Dikutip dari laporan Kitco News, Sabtu (14/3), harga emas spot terakhir tercatat berada di kisaran US$ 5.044,80 per ons troi. Angka ini turun hampir 2,5 persen dibandingkan posisi pekan sebelumnya.
Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak dilaporkan berada di level US$ 81,04 per ons troi atau melemah sekitar 4 persen dalam sepekan terakhir.
Penurunan ini cukup mengejutkan sebagian pelaku pasar. Sebelumnya, emas dan perak diperkirakan akan mendapat dorongan dari meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah memanasnya situasi geopolitik, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Kepala strategi futures dan forex di Tastylive, Christopher Vecchio, mengakui bahwa koreksi harga emas dalam beberapa pekan terakhir turut berdampak pada posisinya di pasar.
Ia menilai kondisi pasar global saat ini membuat pelemahan emas menjadi hal yang cukup masuk akal. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu lonjakan kebutuhan likuiditas dolar AS di pasar keuangan.
Menurutnya, meskipun emas dikenal sebagai aset yang likuid, perdagangan emas fisik bisa menjadi lebih sulit dicairkan ketika tekanan ekonomi meningkat. Dalam situasi penuh ketidakpastian, investor cenderung memilih aset yang paling mudah dikonversi menjadi uang tunai.
“Dalam kondisi global yang tidak menentu, pelaku pasar biasanya mencari likuiditas dari mata uang cadangan dunia,” ujarnya.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga dipicu oleh perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga menjelang rapat Federal Reserve pekan depan.
Konflik yang melibatkan Iran turut memicu gangguan pada rantai pasokan global dan mendorong kenaikan harga energi, terutama minyak. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi di Amerika Serikat masih akan bertahan tinggi.
Situasi ini membuat bank sentral AS berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.
Ekonom dari BMO Capital Markets memperkirakan The Fed hanya akan memangkas suku bunga dua kali sepanjang tahun ini. Pemangkasan pertama diprediksi baru akan terjadi pada September 2026, lebih lambat dibanding proyeksi sebelumnya yang memperkirakan tiga kali pemangkasan mulai Juni 2026. []
























