ASPEK.ID – Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang lebih berbahaya. Milisi-milisi yang didukung Iran mulai meningkatkan serangan terhadap Israel, Amerika Serikat (AS), serta sekutu-sekutunya sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel ke Teheran.
Pergerakan kelompok bersenjata ini berpotensi memperluas kekerasan di kawasan. Irak kini menjadi salah satu titik utama konfrontasi, dengan berbagai operasi yang kerap berlangsung secara terselubung.
Sejak Sabtu pekan lalu, milisi di Irak dilaporkan telah melancarkan puluhan serangan. Target mereka mencakup wilayah Israel serta pangkalan militer AS yang berada di Yordania dan Irak.
Tidak hanya itu, kelompok tersebut juga menargetkan infrastruktur milik oposisi Iran-Kurdi di wilayah utara Irak yang memiliki status otonomi.
Milisi bahkan mengeluarkan ancaman terbuka kepada negara-negara Barat agar tidak ikut terlibat dalam konflik tersebut.
“Kami memperingatkan negara-negara Eropa untuk tidak bergabung dalam perang ini dan kami mengancam pasukan serta pangkalan mereka yang ada di Irak dan wilayah sekitarnya,” tulis pernyataan gabungan faksi milisi, dikutip dari The Guardian, Sabtu (7/3).
Di lapangan, koordinasi antar milisi juga mulai terlihat semakin intens. Kantor berita resmi Irak melaporkan adanya upaya peluncuran rudal dari Provinsi Basra ke negara tetangga, namun berhasil digagalkan oleh pasukan keamanan.
Sementara itu, militer Israel mengonfirmasi adanya serangan drone yang diluncurkan dari wilayah Irak.
“Drone telah diluncurkan ke arah Israel dari Irak, meskipun jumlahnya tidak dalam skala yang signifikan,” kata juru bicara militer Israel pada Rabu malam.
Pakar Irak dari Horizon Engage, Michael Knights, menilai peningkatan aktivitas milisi ini berkaitan dengan upaya mereka mempertahankan pengaruh setelah kehilangan figur kepemimpinan penting.
“Kelompok-kelompok Irak yang didukung Iran sedang mencoba mencari cara agar tetap relevan dan bagaimana merespons kematian Ayatollah Ali Khamenei,” ujarnya.
Namun, serangan tersebut juga memicu respons balasan. Sejumlah pangkalan milisi dilaporkan menjadi target serangan drone bunuh diri yang diduga dilakukan oleh pasukan khusus Israel atau AS.
Serangan tersebut menghantam basis milisi di selatan Baghdad, Nasariya, dan Basra. Sekitar 15 pejuang dilaporkan tewas, sebagian besar berasal dari faksi Kataib Hezbollah.
Knights juga menduga adanya operasi darat rahasia yang tengah berlangsung untuk memburu kelompok milisi di wilayah Irak.
“Ada sistem drone jarak pendek yang digunakan di Irak yang tidak mungkin diterbangkan jauh-jauh dari Israel. Kita melihat pola yang sama seperti dalam perang tahun lalu, yang menunjukkan adanya operasi terselubung di lapangan. Saat ini ada banyak perang proksi yang terjadi,” jelasnya.
Kehilangan personel juga mulai dirasakan oleh kelompok milisi. Kataib Hezbollah mengonfirmasi tewasnya salah satu komandan mereka dalam serangan di Irak selatan, setelah kendaraan yang ditumpanginya dihantam hingga hancur.
Selain itu, pangkalan utama mereka di Jurf al-Nasr terus menjadi sasaran serangan sejak akhir pekan lalu.
Peneliti senior Chatham House, Renad Mansour, menilai kelompok milisi tersebut kini berada dalam fase bertahan di tengah tekanan militer yang meningkat.
“Situasi ini sangat berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka. Namun perhitungan tersebut tidak selalu semata-mata tentang kelangsungan hidup Iran,” katanya.
Jika eskalasi ini terus berlanjut, konflik di Timur Tengah berpotensi meluas menjadi perang proksi yang lebih besar dengan melibatkan berbagai aktor bersenjata di kawasan. []
















