ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah memastikan proses perpanjangan kontrak dengan ExxonMobil telah memasuki tahap akhir pembahasan. Perusahaan migas asal Amerika Serikat tersebut direncanakan melanjutkan kerja sama hingga 2055 dengan tambahan investasi jumbo.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, ExxonMobil merupakan salah satu perusahaan migas AS yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari 100 tahun. Perusahaan ini menjadi salah satu kontributor lifting minyak terbesar nasional, selain Pertamina.
Saat ini, produksi ExxonMobil berada di kisaran 170.000–185.000 barel per hari.
“Kita akan memperpanjang (kerja sama) sampai 2055, dengan tambahan investasi sekitar US$ 10 miliar,” kata Bahlil dalam konferensi pers secara daring, Jumat (20/2).
Meski demikian, pemerintah masih menyelesaikan sejumlah aspek krusial sebelum kesepakatan final diteken. Salah satunya terkait pembagian skema cost recovery antara negara dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
“Ada beberapa hal yang harus kita clear-kan, termasuk sharing cost recovery antara pendapatan negara dan pendapatan Kontraktor Kontrak Kerja Sama/K3S,” kata Bahlil.
Ia menegaskan, pembahasan teknis tersebut kini telah berada di tahap akhir dan menjadi bagian dari komunikasi bilateral antara pemerintah Indonesia dengan pihak perusahaan yang juga melibatkan pemerintah Amerika Serikat.
“Sebentar lagi (pembahasannya) akan selesai,” kata Bahlil.
Perpanjangan kontrak ini dinilai strategis dalam menjaga stabilitas produksi minyak nasional di tengah tren penurunan lifting dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus memperkuat sinyal kepastian investasi sektor hulu migas Indonesia. []























