ASPEK.ID, BANDA ACEH – Dua blok minyak dan gas bumi (migas) di wilayah Aceh yang sebelumnya dikelola perusahaan asing kini mulai menarik minat investor internasional. Dua perusahaan asal Jepang, Japex dan Jogmec, dikabarkan tertarik mengembangkan blok migas yang berada di wilayah Pidie dan Pidie Jaya.
Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Nasri Djalal menyampaikan kabar tersebut dalam kegiatan Rapat Koordinasi Ketahanan Operasi Minyak dan Gas Bumi bersama pemangku kepentingan di wilayah kerja Aceh, yang dirangkai dengan buka puasa bersama di kantor BPMA, Banda Aceh, Sabtu (7/3).
Nasri mengatakan minat investor Jepang tersebut menjadi sinyal positif bagi upaya menghidupkan kembali sektor migas Aceh.
“Kabar gembira bahwa dua blok baru itu di atas wilayah Pidie dan Pidie Jaya yang dulunya bekas repsol itu sudah diminati oleh 2 perusahaan asal Jepang yaitu Japex dan Jogmec dan insyaAllah saat ini sedang berproses di kementerian, kita harakan blok tersebut juga dapat dikembangkan dan memberikan kemakmuran sebesar besarnya untuk rakyat Aceh,” kata Nasri.
Menurutnya, Aceh memiliki potensi migas yang sangat besar yang tersebar dari wilayah utara, timur hingga barat selatan provinsi tersebut.
“Saat ini BPMA memilihi 6 kontraktor kerja sama dan Alhamdulillah Aceh ini dilimpahi minyak dan gas yang luar biasa dari utara timur hingga barat selatan dan ini tentu saja peluang bagi kita agar kejayaan migas Aceh ini dapat kita kembalikan seperti era tahun 90,” ujarnya.
Nasri menambahkan, pengembangan sektor migas di Aceh membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami BPMA, menyempatkan hadir di tengah kesibukan,” ujarnya.
Ia menegaskan BPMA membutuhkan dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ketahanan energi daerah sekaligus mendukung visi pembangunan pemerintah Aceh.
“Acara buka puasa bersama ini tentu saja bukan sekadar rutinitas, kami berharap dengan adanya kegiatan buka puasa bersama ini komunikasi dan siturahmi dan sinergi kita akan tetap terjalin,” kata Nasri.
Menurutnya, dalam menjalankan kegiatan operasional migas BPMA juga membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah Aceh serta stabilitas dari unsur Forkopimda.
“BPMA dalam kegiatannya tentu saja membutuhkan kebijakan dari bapak gubernur dan pemerintah Aceh. Kemudian butuh stabilitas dari forkopimda dalam hal ini, juga butuh kolaborasi dengan dinas-dinas SKPA terkait, dalam hal ini yang paling sering kita lakukan adalah dengan Dinas ESDM Aceh, BPKA,” katanya.
BPMA berharap minat investor asing terhadap blok migas baru di Aceh dapat mempercepat pengembangan potensi energi di daerah tersebut sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. []
























