ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan mengevaluasi kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia dalam waktu sekitar satu bulan ke depan apabila lonjakan harga minyak dunia terus berlanjut.
Pernyataan itu disampaikan menyusul kenaikan harga minyak global yang kembali menembus level psikologis US$100 per barel pada awal pekan ini. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global.
Data perdagangan pada Senin (9/3) menunjukkan dua acuan utama minyak dunia mengalami kenaikan signifikan. Harga Brent Crude tercatat berada di kisaran US$102,8 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sekitar US$100,9 per barel. Kenaikan tersebut menjadi salah satu lonjakan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Menanggapi kondisi itu, Purbaya menilai pemerintah tidak perlu terburu-buru mengambil langkah kebijakan sebelum melihat tren harga dalam periode yang lebih panjang.
“Nanti setelah sebulan kita prediksi harga minyak seperti apa, sehingga kita bisa ngambil kebijakan yang pas,” ujar Purbaya saat ditemui di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3).
Menurutnya, perhitungan dampak harga minyak terhadap fiskal negara menggunakan pendekatan rata-rata tahunan. Karena itu, lonjakan harga dalam waktu singkat belum tentu langsung berdampak pada kebijakan anggaran.
“Akan naik pasti, tetapi diasumsikan dalam setahun penuh. Kalau sekarang US$ 100 per barel, habis itu jatuh ke 50 dolar AS per barel, rata-ratanya bisa sama dengan kemarin,” kata Purbaya.
Ia juga mengingatkan agar publik tidak tergesa-gesa menilai dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian nasional.
“Jadi jangan terlalu cepat-cepat judge ini, judge itu, kita lihat kondisi seperti apa,” ujarnya.
Terkait subsidi energi, pemerintah hingga kini belum memiliki rencana untuk menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi meskipun harga minyak dunia sedang meningkat.
“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubah subsidi BBM dalam pengertian naikin harga BBM,” kata Purbaya.
Menurutnya, kondisi fiskal negara saat ini masih memiliki ruang untuk menahan tekanan dari lonjakan harga energi global.
“Karena uangnya masih cukup,” ujarnya.
Selain itu, ia memastikan ketersediaan stok minyak nasional masih berada pada tingkat aman. Pemerintah mencatat cadangan energi domestik saat ini berada di kisaran sekitar 20 hari.
“Ini kan stoknya 20 hari, berarti berlebih, bukan habis. Kalau distok setahun kan rugi,” kata Purbaya.
Meski demikian, pemerintah tetap membuka kemungkinan untuk menambah pasokan energi jika situasi menuntut.
“Pasti selalu terbuka,” ujarnya.
Purbaya menegaskan pemerintah telah beberapa kali menghadapi periode harga minyak tinggi dan mampu menjaga stabilitas ekonomi.
“Kita sudah ngalamin harga minyak tinggi beberapa kali. Nggak ancur negaranya kan. Kenapa? Karena kebijakannya pas,” kata Purbaya.
Saat ini pemerintah masih memantau perkembangan pasar energi global sebelum menentukan langkah kebijakan selanjutnya.
“Sekarang masih kita pantau,” ujar Purbaya. []























