ASPEK.ID, SINGAPURA – Kualitas udara di wilayah tengah Singapura dilaporkan telah mencapai kategori tidak sehat pada Jumat (4/9/2026) di tengah kebakaran hutan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera.
Indeks standar polutan atau pollutant standards index (PSI) 24 jam di kawasan tersebut menembus angka 100, berdasarkan data Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA).
Pada pukul 07.00 waktu setempat, PSI 24 jam di wilayah tersebut tercatat 101. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 105 pada pukul 10.00. Sementara itu, kualitas udara di wilayah lainnya masih berada dalam kategori sedang. Pada pukul 10.00, PSI 24 jam tercatat 90 di wilayah barat, 89 di timur, 78 di utara, dan 75 di selatan.
PSI 24 jam merupakan indikator yang digunakan Singapura untuk menggambarkan kualitas udara harian sekaligus menjadi dasar NEA dalam mengeluarkan peringatan kesehatan. Indeks tersebut dihitung berdasarkan enam jenis polutan udara, yakni PM2.5, PM10, ozon, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan karbon monoksida.
Berbeda dengan PSI 24 jam, pembacaan PM2.5 selama satu jam menunjukkan rata-rata konsentrasi polutan PM2.5 dalam satu jam tertentu. Partikel PM2.5 berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil dan menjadi salah satu polutan utama yang berbahaya bagi kesehatan saat terjadi kabut asap.
Mengutip Channel News Asia, Jumat (4/9/2026), dalam pembaruan terbaru mengenai kondisi cuaca dan kabut asap, NEA menyebut sejumlah stasiun pemantauan kualitas udara di Kalimantan, Sumatera bagian tengah dan selatan, serta Sabah dan Sarawak mencatat kualitas udara pada level tidak sehat hingga berbahaya.
NEA juga melaporkan titik panas yang tersebar hingga meluas terdeteksi di Kalimantan serta Sumatera bagian selatan dan tengah. Sejumlah titik panas juga terpantau di wilayah lain di ASEAN bagian selatan, yang masih mengalami kondisi kering.
Kabut asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga tebal terpantau di bagian utara Kalimantan dan wilayah barat daya Filipina. Gumpalan asap dengan intensitas serupa juga terlihat di sejumlah wilayah Kalimantan, Sumatrea bagian tengah dan selatan, serta Sarawak bagian tengah.
“Selama beberapa hari ke depan, kondisi kering diperkirakan terjadi di banyak bagian wilayah ASEAN selatan, kecuali bagian utara Semenanjung Malaysia dan Sumatra, serta bagian tengah Kalimantan, di mana hujan diperkirakan akan turun,” bunyi peringatan NEA dilansir dari beritasatu.com.














