ASPEK.ID, JAKARTA -Richard Lie (32) mengidap gagal ginjal dan harus cuci darah sejak usia 16 tahun. Lewat konten yang dibagikan di media sosial, Richard membagikan kisahnya untuk meningkatkan kesadaran seputar gagal ginjal.
Richard menceritakan, semuanya berawal dari tahun 2010. Suatu hari ia merasa jantungnya seperti berdebar, khususnya ketika beraktivitas. Ia bahkan sampai harus tidur dengan posisi duduk.
Kondisinya sempat sedikit membaik, sampai beberapa hari kemudian keluhan serupa muncul kembali dengan lebih hebat. Akhirnya ia dibawa oleh sang ibu untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.
“Dokter syok karena tensi saya saat itu 240 per 140, ketika saya napas, rasanya tidak ada oksigen yang masuk ke tubuh saya, saya merasakan sesak yang luar biasa” cerita Richard lewat salah satu kontennya.
Setelah dilakukan cek lab, ditemukan tanda kerusakan ginjal yang akhirnya menyebabkan jantungnya mengalami pembengkakan. Paru-parunya terisi air hingga menyebabkan sesak napas.
Richard mengaku awalnya bingung dengan diagnosis tersebut. Terlebih dirinya saat itu terhitung memiliki hidup yang sehat seperti sering olahraga, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol.
Rupanya kondisi tersebut disebabkan oleh glomerulonefritis, yang pada kasusnya diakibatkan oleh kondisi autoimun. Glomerulonefritis merupakan peradangan pada glomerulus, yaitu pembuluh darah kecil di ginjal yang berfungsi menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah.
Dia menceritakan, sepanjang menjalani perawatan, ia menggunakan dua metode cuci darah berupa hemodialisis (HD) dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD).
“Saya cuci darah di 3 tahun awal dari 2010 sampai 2013. Lalu saya beralih ke CAPD, seperti ibarat cuci darah mandiri di rumah dan sehari dilakukan sebanyak 4 kali,” cerita Richard, Jumat (18/9/2026) dikutip dari detik.
Hingga saat ini dirinya masih rutin melakukan cuci darah. Selama menjalani perawatan yang panjang, Richard menuturkan ada banyak orang yang memberinya dukungan.
Ini membuatnya tetap semangat menjalani perawatan, meski tidak mudah. Selain support, menurutnya harapan dan kelola stres menjadi faktor penting bagi dirinya untuk tetap fokus pada perawatan yang ada.
“Kondisi saya saat ini karena awal Januari 2026 saya ada kepleset dikit yang bikin sendi panggul saya patah, sehingga saya sekarang belum bisa berjalan,” ceritanya lagi.
“Pantangan saya saat ini adalah mengurangi makanan ultra-processed food dan manis-manis gula, serta menjaga kalsium dan fosfor, serta HB darah agar mendekati normal,” tambah Richard berbicara soal pantangan selama menjalani cuci darah.













