ASPEK.ID, YEL AViV – Sekitar 80.000 warga Israel yang tinggal di luar negeri diperkirakan kembali untuk memberikan suara dalam pemilu pada Selasa (27/11/2026). Berdasarkan data dari International Foundation for Electoral Systems yang berbasis di Washington, Israel memiliki sekitar 7,3 juta pemilih yang memenuhi syarat.
“Meskipun bukan kelompok yang besar, 80.000 orang yang mungkin kembali ke Tanah Air untuk berpartisipasi dapat memberikan perbedaan signifikan dalam penghitungan akhir pemilu yang sangat ketat ini,” kata Profesor Ilmu Politik di Universitas Tel Aviv, Yael Shomer dikutip dari CNBC, Rabu (28/10/2026).
Dalam pemilu Israel, Benjamin Netanyahu dari partai Likud yang telah menjabat sebagai Perdana Menteri selama 18 tahun dalam tiga periode terpisah menghadapi penantang utama Gadi Eisenkot, mantan kepala staf Militer Israel yang memimpin partai Yashar. Keduanya kemungkinan besar membutuhkan dukungan dari mitra koalisi potensial untuk bisa menang.
Jajak pendapat menunjukkan persaingan sangat ketat. Isu-isu seperti keamanan yang selama ini menjadi penentu utama bagi warga Israel menjadi semakin kontroversial di tengah situasi perang yang melibatkan Iran.
“Semua pemilu di Israel selalu berlangsung dinamis, namun karena pemilu kali ini akan memberikan dampak yang sangat berarti bagi masa depan negara, persaingannya menjadi jauh lebih sengit. Pemilu ini pada dasarnya adalah tentang bagaimana kita memandang masa depan kita; tingkat partisipasi pemilih akan sangat tinggi,” ucap Shomer disalin dari detik.
Menurut Komite Pemilihan Umum Pusat Israel, tingkat partisipasi pemilih pada 2022 berada sedikit di atas 70%. Para lembaga survei memperkirakan angka tersebut bisa mencapai hingga 87% pada pemilu kali ini.
Guna membantu warga yang tinggal di luar negeri kembali dan memberikan suara, sebuah organisasi bernama Fly & Vote dibentuk America-Israel Democracy Coalition. Itu merupakan sebuah kelompok yang berbasis di Amerika Serikat (AS) dan didirikan pada 2023 untuk menentang upaya partai Likud dalam mereformasi sistem peradilan.
Meskipun partai politik dilarang membiayai transportasi apa pun bagi warga di dalam maupun di luar Israel, koalisi tersebut punya cara lain untuk memfasilitasi proses pemungutan suara. Mereka menyewa pesawat khusus bagi warga Israel yang tinggal di Portugal, serta membeli sejumlah tiket untuk penerbangan dari wilayah New York.
Meski demikian, setiap penumpang dalam penerbangan tersebut tetap harus membayar biaya kursi mereka sendiri. Para pelancong juga banyak memilih maskapai komersial.
“Warga Israel yang tidak tinggal di sini tetap memiliki kepentingan terhadap apa yang terjadi di negara kita dan kami ingin membantu mereka. Kami tidak memihak pada posisi politik tertentu dan tidak mengarahkan siapa pun untuk memilih pihak mana pun. Kami hanya membantu mereka agar bisa menggunakan hak pilihnya,” ujar Ora Peled-Nakash, salah satu pendiri kelompok tersebut.
















