ASPEK.ID, JAKARTA – China dilaporkan menyetujui vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh afiliasi raksasa farmasi yang didukung negara, yakni Sinopharm pada hari Kamis (30/12).
Suntikan pertama yang disetujui untuk penggunaan publik umum karena bersiap untuk peningkatan risiko penularan selama musim dingin.
Dilansir dari Reuters, tidak ada data kemanjuran rinci dari vaksin yang telah dirilis ke publik tetapi pengembangnya, Beijing Biological Products Institute, sebuah unit anak perusahaan Sinopharm China National Biotec Group (CNBG), mengatakan pada hari Rabu bahwa vaksinnya 79,34% efektif untuk data sementara.
Persetujuan itu datang setelah Uni Emirat Arab bulan ini menjadi negara pertama yang meluncurkan vaksin itu ke publik.
Meskipun China lebih lambat dari beberapa negara lain dalam menyetujui vaksin COVID-19, China telah menginokulasi warganya selama berbulan-bulan dengan tiga suntikan berbeda masih menjalani uji coba tahap akhir.
China meluncurkan program penggunaan darurat pada Juli yang ditujukan untuk pekerja penting dan orang lain yang berisiko tinggi terinfeksi dan pada akhir November, telah memberikan 1,5 juta dosis menggunakan setidaknya tiga produk berbeda – dua dikembangkan oleh CNBG dan satu oleh Sinovac.
Sementara kemanjuran suntikan Sinopharm mengikuti lebih dari 90% tingkat keberhasilan vaksin saingan dari Pfizer Inc dan mitranya BioNTech dan Moderna Inc.
Persetujuan peraturan bersifat bersyarat, diberikan untuk vaksin yang dianggap sangat dibutuhkan untuk mengatasi keadaan darurat kesehatan masyarakat utama meskipun uji klinis lengkap belum selesai.
Persetujuan itu datang ketika Inggris pada hari Rabu menyetujui vaksin COVID-19 kedua, suntikan yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca, saat memerangi gelombang musim dingin besar yang didorong oleh varian baru virus.
























