ASPEK.ID, JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) diminta untuk segera mengevaluasi secara menyeluruh transportasi udara di masa pandemi Covid-19 pasca kecelakaan pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu, Jakarta.
Pesawat dengan kode penerbangan SJ182 itu terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang (CGK) dengan tujuan Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat (PNK).
Sriwijaya Air SJ182 kehilangan lebih dari 10.000 kaki ketinggian dalam waktu kurang dari satu menit, sekitar 4 menit setelah keberangkatan dari Jakarta usai mengalami delay beberapa saat, Sabtu (9/1).
Di laman flighradar24.com, tertera informasi pesawat tersebut terjadwal berangkat pada pukul 13.40 WIB dan dijadwalkan tiba pukul 15.15 WIB.
Berdasarkan data manifest yang diterima Aspek.id, pesawat tersebut mengangkut sebanyak 40 penumpang dewasa, 7 anak, 3 bayi dan 12 kru kabin.
“Menteri Perhubungan perlu melakukan evaluasi total terhadap berbagai hal terkait transportasi udara di masa pandemi,” ujar Anggota Komisi V DPR RI Rifqinizamy Karsayuda dalam keterangan resminya yang dikutip di Jakarta, Senin (11/1/2021).
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini menjelaskan pada pertengahan tahun 2020 Federal Aviation Asociation (FAA) di Amerika Serikat telah mengeluarkan rekomendasi kepada lebih dari 2.000 unit pesawat Boeing 737.
Khususnya Boeing 737-300, 737-400, dan 737-500 yang digunakan di seluruh dunia pada masa pandemi ini. FAA menyebutkan tidak digunakannya pesawat dalam kurun waktu yang lama akan mengakibatkan korosi pada pesawat tersebut.
FAA saat itu juga memperingatkan agar maskapai melakukan pemeriksaan dengan seksama setelah mereka menemukan korosi pada katup pemeriksaan udara (air check valves).
Terlebih apabila pesawat tidak dioperasikan selama lebih dari seminggu. Korosi pada pesawat dapat memicu skenario terburuk selama terjadinya penerbangan hingga bisa menyebabkan kerusakan pada mesin ganda.
Merujuk pada Petunjuk Kelayakan Udara Darurat (Emergency Airworthiness Directive/EAD) khusus pesawat Boeing seri 737, sebagian besar pesawat mengalami katup udara pembuangan mesin yang tidak bisa terbuka dengan baik.
Jika katup udara terbuka saat lepas landas,maka dapat tersangkut dalam posisi terbuka selama penerbangan dan gagal menutup. Setelah itu kompresor pun akan macet dan tidak bisa diperbaiki, sehingga mesin tidak dapat dihidupkan kembali.
Menurut Rifqi, temuan tersebut harusnya telah menjadi peringatan keras bagi berbagai maskapai di Tanah Air yang menggunakan pesawat Boeing 737 dimaksud.
“Kemenhub sejak awal harus mengantisipasi temuan FAA ini di Indonesia. Karena, musibah SJ-182 ini harus menjadi evaluasi total bagi dunia penerbangan kita di masa pandemi ini,” tandas Rifqi.
Lebih lanjut, legislator dapil Kalimantan Selatan I itu menyatakan akan meminta secara resmi kepada Pimpinan dan segenap anggota Komisi V DPR RI untuk duduk bersama Menhub beserta seluruh jajaran terkait.
Termasuk juga Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan evaluasi total pasca musibah ini.
“Dari sisi teknologi penerbangan, pasti ada konsekuensi tersendiri akibat berkurangnya volume pemakaian pesawat-pesawat udara tersebut, belum lagi soal isu usia pesawat yang banyak berusia tua,” pungkas Rifqi.
















![[Foto] Gedung Lantai 4 Ambruk di Slipi](https://aspek.id/wp-content/uploads/2020/01/WhatsApp-Image-2020-01-06-at-18.14.49-350x250.jpeg)







