ASPEK.ID, JAKARTA – PT Terminal Teluk Lamong adalah salah satu anak usaha PT pelabuhan Indonesia III atau Pelindo III (Persero) yang diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 22 Mei 2015.
Terminal Teluk Lamong dibangun pada akhir tahun 2010 dan tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun 2014, ditandai dengan pelayanan kapal domestik pertama pada November 2014 dan kapal internasional pada 22 Mei 2015.
Kegiatan usaha Terminal Teluk Lamong adalah penyediaan jasa kepelabuhanan, terutama bidang peti kemas dan curah kering dengan visi menjadi terminal yang unggul dengan pelayanan logistik yang terintegrasi, modern, dan berwawasan lingkungan.

Sejak awal berdiri, Terminal Teluk Lamong memang dikenal sebagai salah satu terminal pelabuhan paling modern, ramah lingkungan dan berteknologi semi-otomatis pertama di Indonesia.
Salah satu dari implementasi teknologi semi-otomatis tersebut adalah dengan penggunaan Automated Stacking Crane dan Ship To Shore yang merupakan 2 crane bertenaga listrik untuk mengangkat dan memindahkan petikemas.

Automated Stacking Crane atau ASC adalah alat semi otomatis yang dioperasikan dari jarak jauh.
Operator mengoperasikan alat dari ruang kendali tidak seperti alat konvensional yang dioperasikan dari atas alat. ASC digunakan sebagai alat angkat petikemas di Container Yard.

Sedangkan Ship to shore crane (STS) yang dioperasikan di Terminal Teluk Lamong merupakan alat yang dioperasikan dengan tenaga listrik sehingga sesuai dengan konsep Green port yang diusung oleh TTL.
Hadir dan beroperasinya Terminal Teluk Lamong sebagai terminal operator yang mengusung teknologi tinggi dan ramah lingkungan dapat memberikan banyak kemajuan terhadap pengelolaan pelabuhan di Indonesia.
Kinerja
Trafik kapal petikemas maupun curah kering di Terminal Teluk Lamong tercatat mengalami peningkatan sepanjang tahun 2020.
Untuk trafik kapal hingga Desember 2020 tercatat sebanyak 1.178 unit dengan total berat 17.222.455 GT.
“Jumlah tersebut naik 7 persen dibanding periode yang sama tahun 2019 sebanyak 1.105 unit dengan total berat 16.786.524 GT,” kata Direktur Operasi dan Teknik Terminal Teluk Lamong, Warsilan, dalam keterangan yang dikutip beberapa waktu lalu.
Trafik kapal peti kemas juga mengalami kenaikan sebesar 7 % dari 1.029 unit (13.540.737 GT) menjadi 1.101 unit (13.941.759 GT) pada tahun 2020. Jumlah tersebut didominasi oleh kapal domestik yang meningkat 19 % dibanding tahun lalu.
Kedatangan kapal domestik mencapai 753 unit (6.020.436 GT) pada 2019, dan naik menjadi 840 unit (7.176.668 GT) pada 2020.
Trafik kapal curah kering juga nak sebesar 1 % dibanding tahun 2019. Pada tahun 2019 tercatat ada 76 unit (3.245.787 GT), naik menjadi 77 unit kapal (3.280.696) GT di tahun 2020.
Namun, arus petikemas 2020 turun 5% menjadi 678.208 TEUs dari tahun sebelumnya, imbas pandemi Covid-19. Jumlah petikemas internasional ikut turun 13% menjadi 296.896 TEUs dari 372.936 TEUs pada tahun 2019.
Sedangkan muatan petikemas domestik tahun 2020 tercatat naik 2 % menjadi 381.312 TEUs dibandingkan dengan 2019 yang hanya 372.936 TEUs.
Sementara jumlah muatan petikemas, arus curah kering hingga Desember 2020, turun 3 % menjadi 2.787.182 Ton dibandingkan dengan tahun 2019.





















