ASPEK.ID, JAKARTA – “Generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan”. Jargon di dunia pengusaha itu sangat menghantui generasi pertama dan kedua yang membangun kerajaan bisnis dengan mandi keringat. Mereka khawatir jika mahkota bisnis akan ambruk di tangan cucunya alias generasi ketiga yang lahir sudah menikmati kekayaan dan kenikmatan.
Salah satu konglomerat yang berusaha mematahkan ucapan itu adalah pengusaha dinasti Bakrie yang telah telah mewariskan perusahaan dan kekayaan melimpah hingga untuk tujuh turunan. Bakrie, Aburizal Bakrie dan Anindya Bakrie adalah salah satu pengusaha yang bisa bertahan hingga generasi ketiga. Dari mana pundi-pundi kekayaan itu mengalir?
Ini semua diawali dari kegigihan Achmad Bakrie yang lahir di Lampung pada 11 Januari 1914 – meninggal di Tokyo, Jepang, 15 Desember 1997 dalam usia 83 tahun – yang memulai usahanya mendirikan perusahaan NV Bakrie & Brothers pada 1940 di Telukbetung dengan bisnis karet, lada, dan kopi.
Kemudian ayah Aburizal Bakrie ini membuka diversifikasi dagang mendirikan pabrik pipa baja, pabrik kawat dan pengolahan karet mentah. Naluri dagang Ahmad kecil sudah terlihat pada masa kecil dengan menjual roti untuk membiayai sekolahnya. Ahmad Bakrie yang berdarah-darah membangun bisnisnya sehingga bisa diwariskan kepada anak-anaknya yakni salah satunya kepada Aburizal Bakrie.





















