Judul: How to Survive the Society as a Teenager (sekumpulan rahasia sukses bersosialisasi anti-nolep)
Penulis: Venus Mandala Sahputri
Editor: Nurma Desty Anggraeni
Tebal: 104 halaman
Terbit: April 2021
Penerbit: Ellunar Publisher, Bandung
ASPEK.ID,. JAKARTA – Buku bertema milenial ditulis oleh milenial. Buku ini disajikan oleh generasi milenial. Bahasanya bergaya milenial dan gampang dipahami ala anak gaul.
Buku ini menguliti pengalaman penulis dalam bergaul sesama remaja. penulis – mahasiswi kedokteran di Jakarta – menguraikan secara gampang trik bergaul berdasarkan pengalamannya. Ada 13 peraturan yang disajikan secara runut serta didukung oleh ilustrasi dan sebagainya.
Dari 13 peraturan yang patut disimak salah satunya perihal memberi kritik. Kritik yang baik itu sebagai asupan sehat bagi siapa pun. Namun ketika cara kritik tidak sopan atau membuat sahabat malu, ini berdampak tidak baik pada orang lain dan bisa meregangkan pertemanan.
Untuk itu, Venus menyodorkan jurus yang sopan dalam menyalurkan kritik yakni memperlihatkan simpati, awali dengan pujian, sampaikan kesalahan secara tersirat, ceritakan pengalaman Anda atau dampak buruk yang dirasakan sendiri, beri saran atau petunjuk, dan beri semangat (halaman 17).
Kita paham, kadangkala remaja dalam bicara atau menegur temannya apa adanya dan kurang peduli perasaan sahabat yang dikritik di depan teman-temannya. Tegurlah secara lembut dan baik-baik akan lebih efektif daripada saling menyerang dengan kritikan.
Kebiasaan kritik atau menegur dengan keras harus diubah secara perlahan-lahan. Jangan bikin malu kawan di depan teman-temannya secara langsung atau di media sosial.
Salah satu sisi plus buku ini setiap peraturan diawali dengan pengantara melalui dialog-dialog sehingga suasana pembaca hidup. Yang termaktub dalam buku ini adalah pengalaman penulis sehingga lebih menyentuh perasaan pembaca. Tidak merujuk pada teori-teori bergaul seperti yang diajarkan di bangku-bangku kuliah.
Persoalan yang dibentangkan di buku ini yang rutin dihadapi oleh kaum remaja termasuk kalangan dewasa. Salah satu bagian dalam berinteraksi sosial yakni persoalan toxic people. Mereka adalah teman dekat yang pada awalnya baik. namun semakin lama terlihat warna aslinya.
Sialnya kita sudah terlambat menghindarinya karena sudah terikat oleh suatu hubungan. Bila kita terus bersama lingkaran tersebut, kita akan merasa terbeban dan jenuh. Apa ciri-ciri dari pelaku toxic people.
Pertama, manipulatif. Mereka yang manipulatif sangat hebat dalam berpura-pura, untuk menarik rasa simpatisan. Biasanya mereka akan berpura-pura peduli padamu.
Contohnya, jika seseorang yang tidak terlalu dekat dengan Anda dan tiba-tiba bersikap manis dan peduli Anda. Kemudian dia meminta sesuatu dari Anda,berarti dia adalah tipe manipulatif.
Kedua, tidak konsisten. Manusia munafik ini yakni yang dikatakan berbeda yang yang dikerjakan. Jika dikatakan dirinya siap menerima kritik, maka terimalah kritik yang disampaikan tanpa perlu membela diri dan\ ucapkan terima kasih.
Ketiga, rajin kritik atau mengejek. Mungkin dalam hal ini termasuk ngeyel. Suka kritik orang yang melakukan kesalahan sekalipun dirinya sendiri melakukan kesalahan tersebut. Tujuannya ada banyak bisa untuk menjatuhkan rasa percaya diri seseorang, sengaja membuat seseorang merasa kesal atau memang karena sudah kebiasannya.
Keempat, play victim alias tidak mau mengakui kesalahannya dan membuatnya Anda merasa Anda yang salah jika sedang berdebat dengan Anda. Yang suka main play victim juga tipe manusia yang haus akan perhatian publik.
Ketika bertengkar dengan seseorang, mereka akan membuat orang lain yang tidak terlibat berpikir jika merekalah korban yang tidak bersalah dalam pertengkaran tersebut. Bahasa singkatnya, menjadi korban yang dizalimi, padahal dia pelaku zalim terhadap orang lain.
Kelima, menolak meminta maaf. Tipe manusia toxic tidak akan meminta maaf atau apapun yang telah dilakukan. Mereka merasa dirinya adalah yang selalu benar karena mereka memiliki ego yang tinggi dan gengsi meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Ketika mereka berbuat salah, mereka juga akan membuat hal ini seperti hal yang biasa saja.
Keenam, bersikap baik pada orang tertentu. Ada beberapa hal yang jadi penyebab aksi tersebut yakni mereka ingin ikut mendapatkan kesan baik seperti temannya. Berteman dengan orang-orang populer karena ingin dianggap sebagai orang yang terkenal juga.
Mereka ingin memanfaatkan orang-orang tertentu. Dalam bergaul tidak semua orang bisa senang dengan kehadiran kita. Ada pihak yang tidak suka atau menerimanya.
Ada peribahasa “The thing that irritate you about the others may be their greatest strength” (hal yang membuatmu tidak menyukai orang lain bisa jadi adalah kehebatannya.
Akhirukalam pesan dalam buku ini yakni selalu tebarkan benih kebaikan dan menjaga adab di mana pun dengan siapa pun berhadapan. Sebab di mana pun berada, sifat dan perilaku yang menentukan apakah seseorang yang terdidik atau tidak, apakah pantas untuk dihargai atau tidak dan apakah dia orang baik atau bukan. [Murizal Hamzah]
























