• Latest
  • Trending
Presiden Baru Iran Ebrahim Raisi Enggan Bertemu Joe Biden

Presiden Baru Iran Ebrahim Raisi Enggan Bertemu Joe Biden

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

Prabowo: Ikuti Garis Politik Jokowi

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

Desember, Komisioner dan Dewan Pengawas KPK Dilantik

KPK Bocorksn Isi Surat ke Panglima TNI Keterlibatan Prajurit Aktif di Kasus BNPB

Cadangan Devisa September 2019 Setara 7,2 Bulan Impor

Sah! BI Tahan Suku Bunga di Level 5,75 Persen untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Prajogo Pangestu Habiskan Rp 3,6 Triliun, Akuisisi Diler Mobil di Singapura-Malaysia

Imbas Peringatan MSCI Kekayaan 3 Miliarder Indonesia Berkurang Rp 106 Triliun

BNPB Hormati OTT KPK, Dorong Asas Praduga Tak Bersalah

Istri Adik Eks Kepala BNPB Menangi Sejumlah Proyek

Prabowo Panggil Sejumlah Menteri Bahas Karhutla

Anas: 2 Agenda Mendesak Prabowo-Gibran di Tahun Ketiga

Bursa Asia Menguat, IHSG Ikut Meroket di Awal Perdagangan

Cegah Bursa RI Turun ke Standalone Market, DEN Beri Saran ke Prabowo

PSBB Tekan IHSG ke Zona Merah

Sempat Menguat, IHSG Hari Ini Melemah

Prabowo Usul Bentuk Pengadilan Ad Hoc Usut BUMN Bermasalah di Masa Lalu

Prabowo Gelar Sidang Kabinet Paripurna di Istana Sore Ini

85% Pekerja Profesional Indonesia Cari Kerja Baru di 2024

UNDP: 800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Kerja

WFH ASN Resmi Berlaku, Perjalanan Dinas Dipangkas hingga 70%

Menkeu Pastikan Gaji PNS Dibayar Melalui Bank Bukan Kopdes

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Rabu, Oktober 21, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Presiden Baru Iran Ebrahim Raisi Enggan Bertemu Joe Biden

by Zamzami Ali
Juni 23, 2021
in GLOBAL
Presiden Baru Iran Ebrahim Raisi Enggan Bertemu Joe Biden

Presiden Iran, Ebrahim Raisi. [AP PHOTO/EBRAHIM NOROOZI]

ASPEK.ID, JAKARTA – Iran baru saja memilih Ebrahim Raisi, presiden garis keras yang setia kepada pemimpin tertinggi negara itu. Dia mengaku enggan untuk bertemu dengan Presiden AS Joe Biden.

Raisi dapat menjadi kunci untuk menghidupkan kembali negosiasi dalam perjanjian nuklir Iran 2015. Akan tetapi, pemerintahan Biden yakin pemimpin tertinggi Iranlah yang berhak mengambil keputusan.

Ebrahim Raisi adalah presiden-terpilih Iran. Tokoh ultrakonservatif itu menang telak dalam pemilihan presiden dengan tingkat partisipasi pemilih terendah. Ketika ditanya apakah ia akan menemui Presiden AS Joe Biden, Raisi sebagaimana dilansir dari laman VOA Indonesia menjawab, “Tidak.”

BacaJuga

UNDP: 800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Kerja

PM Malaysia Minta ASEAN Tangani Karhutla RI

Penyebab Kerusuhan di Prancis

Sekjen PBB Akan Bertemu Prabowo

Di China, Pemilik TK Dihukum Seumur Hidup  karena Ratusan Murid Keracunan Makanan

Sekjen PBB ke Jakarta, Ada Pengalihan Jalan

Jawaban yang tidak membuat ragu Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki. “Dalam pandangan kami, ada seorang pengambil keputusan di Iran yang sampai sekarang belum berubah, ia adalah Pemimpin Tertinggi Iran.”

Pemimpin Tertinggi Iran yang dimaksud Psaki adalah Ayatollah Ali Khamenei. Siapapun yang menjabat presiden bertanggung jawab kepada pemimpin tertinggi negeri itu.

AS dan lima negara lainnya tengah merundingkan sejumlah persyaratan baru dari perjanjian nuklir Iran tahun 2015, tapi Raisi mengatakan bahwa program rudal Iran “tidak dapat dinegosiasikan.” Ia juga menyalahkan AS karena melanggar janji.

Raisi mengatakan, “Anda berkewajiban untuk mencabut sanksi dan Anda tidak melakukannya; kembali dan penuhilah komitmen Anda. Dan kepada negara-negara Eropa, menurut saya mereka seharusnya tidak terus ditekan oleh kebijakan Amerika.”

Psaki menyebut pernyataan itu sebagai gertakan politik dan mengatakan bahwa sanksi-sanksi – yang diterapkan kembali oleh pemerintahan mantan Presiden Trump – merupakan bagian dari diskusi untuk menghidupkan kembali perjanjian internasional tersebut.

Jen Psaki menambahkan, “Kami tentu paham seperti kita lihat dari negosiasi sebelumnya bahwa akan ada berbagai retorika yang diluncurkan untuk menanggapi kebutuhan politik di dalam negeri. Kami paham itu, tetapi fokus kami tetap pada negosiasi-negosiasi yang kami harap bisa berlanjut.”

Raisi sendiri tengah dikenai sanksi AS akibat perannya sebagai tersangka dalam eksekusi ribuan tahanan politik pada 1988, meski ia menyebut dirinya sebagai “pembela hak asasi manusia” dalam konferensi persnya.

Mantan tahanan Iraj Mesdaghi menyebut sang presiden-terpilih, yang menjabat posisi Hakim Agung Iran, memimpin “panel hukuman mati.” “Ia memainkan peran yang sangat aktif dibandingkan dengan anggota komisi kematian lainnya,” tukasnya.

Ketika VOA bertanya kepada Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki, tentang sanksi terhadap sang presiden-terpilih dan negaranya, Psaki menjawab, “Presiden yang baru tentu saja akan dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran HAM di bawah pengawasannya. Ke depan, kami mendesak pemerintah Iran, terlepas siapapun yang berkuasa, untuk membebaskan tahanan politik, memperbaiki hak asasi manusia dan kebebasan mendasar bagi semua warga Iran.”

Raisi adalah anak didik pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pengamat memperkirakan ia tidak akan memerintah negaranya sendiri dan bahwa tantangan besar menantinya.

Farzaneh Roostaee, jurnalis Iran di Stockholm, menuturkan, “Kursi kepresidenan berada di luar kapasitasnya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan krisis ekonomi Iran maupun JCPOA (The Joint Comprehensive Plan of Action atau perjanjian nuklir Iran, red.), yang merupakan masalah yang sangat kompleks dan sulit, bahkan mungkin tidak akan bisa dipecahkan.”

Tidak ada yang tahu kapan keenam kekuatan dunia – AS, Inggris, Rusia, Prancis, China dan Jerman – akan bertemu lagi untuk membahas perjanjian nuklir Iran. Penasihat keamanan nasional AS mengatakan masih ada kesenjangan yang lebar pada beberapa isu utama.

Komentar
Share30Tweet19SendShareShare5Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

AS-Iran Lanjut Negosiasi Damai Kamis Ini

AS Ancam Tutup Operasi Maskapai Iran di Seluruh Dunia Mulai Besok

ASPEK.ID - Amerika Serikat (AS) mengancam akan membuat maskapai penerbangan Iran berhenti beroperasi secara internasional mulai Rabu (23/9). Ancaman tersebut...

Gencatan Senjata Diperpanjang, Trump Ingin Israel-Lebanon Bertemu di AS

Jenderal AS Dorong Trump Akhiri Perang dengan Iran

Washington - Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine mendesak Gedung Putih untuk mencari jalan mengakhiri konflik dengan...

Teken Gross Split Blok Selat Panjang, RI Terima Bonus Rp 70 M

Harga Minyak Dunia Turun Usai AS batal Serang Iran

Jakarta - Harga minyak dunia anjlok pada perdagangan Senin (4/8/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa dirinya...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In