Menteri Keuangan (Menkeu) menyatakan Indonesia akan memberhentikan pembangkit batubara. Para investor dari belahan dunia pun diklaim akan mendukung rencana pemerintah tersebut.
Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani melalui akun resmi instagramnya usai mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri CEO Forum di Glasgow, Skotlandia.
“Di sektor energi Indonesia akan membuka peluang investasi untuk melakukan early retirement dari pembangkit batubara yang kemudian bertransisi ke energi terbarukan,” kata Sri Mulyani, Selasa (3/11/2021).
Sri menjelaskan Indonesia telah mengidentifikasi terdapat 5,5 Gigawatt (GW) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara yang bakal ditutup dengan kebutuhan pendanaan sebesar US$ 25 miliar hingga US$ 30 miliar selama 8 tahun ke depan.
Sri menyampaikan secara langsung bahwa regulasi berupa Peraturan Presiden (Perpres) telah terbit. Perpres tersebut mengenai instrumen nilai ekonomi karbon yang akan mengatur mekanisme karbon ke depan.
Sri bersama Jokowi juga mempresentasikan mengenai potensi Indonesia pada pengembangan kendaraan dan baterai listrik, serta pembangunan Green Industrial Park di Kalimantan Utara seluas 13.000 hektar yang akan menggunakan sumber energi ramah lingkungan. Para investor yang tergabung dalam CEO Forum tersebut, diklaim Sri Mulyani begitu antusias dan siap mendukung.
“Mereka juga sangat antusias menanyakan dan mendukung instrumen pendanaan investasi hijau (green bonds dan blended finance) yang sudah dibentuk Indonesia,” jelas Sri Mulyani.
Pemerintah mengambil langkah serius dalam penanggulangan perubahan iklim, dengan mengesahkan Perpres tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK).
Pemerintah mengungkapkan Perpres NEK tersebut sebagai tonggak penting dalam mencapai komitmen Indonesia pada target Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dan Net Zero Emission pada 2060.
Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan internasional pada 2030.
























