ASPEK.ID, JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/4). Pertemuan empat mata itu membahas kondisi ekonomi nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Momen pertemuan tersebut turut dibagikan melalui akun Sekretariat Kabinet. Keduanya tampak berdiskusi serius di salah satu ruangan Istana Merdeka.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut kondisi ekonomi domestik masih relatif stabil. Namun, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak ketidakpastian global.
“Aktivitas ekonomi nasional dinilai masih sangat terjaga, namun kewaspadaan tetap diperlukan. Pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk merespons dampak konflik global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan,” tulis Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Dalam pertemuan itu, Luhut memaparkan sejumlah skenario kebijakan yang disiapkan pemerintah. Fokusnya antara lain menjaga daya beli masyarakat serta memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali.
“Ketua Dewan Ekonomi Nasional menyampaikan sejumlah skenario kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat serta memastikan APBN tetap terkendali, termasuk melalui penguatan digitalisasi pemerintahan (govtech),” katanya.
Pembahasan juga mencakup pengembangan digitalisasi bantuan sosial (bansos) yang saat ini tengah diuji coba di sejumlah daerah. Pemerintah mendorong agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan transparan.
“Digitalisasi bantuan sosial saat ini tengah diuji coba di Banyuwangi dan akan diperluas ke 42 kabupaten/kota. Langkah ini diharapkan meningkatkan transparansi dan ketepatan sasaran penyaluran bansos,” ujarnya.
Selain itu, keduanya turut membahas peluang ekonomi di tengah situasi global, termasuk upaya menarik investasi dari luar negeri. Pemerintah melihat potensi masuknya arus modal, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
“Seiring dinamika global, pemerintah juga melihat peluang untuk menarik arus modal, terutama dari Timur Tengah, melalui percepatan pembentukan Indonesia Financial Center guna memperkuat daya tarik investasi nasional,” kata Teddy. []
























