ASPEK.ID, JAKARTA – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan strategi upskilling, reskilling, dan cross-skilling atau strategi triple skilling (3S) untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja muda dalam menghadapi pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan AI telah mengubah dunia kerja dan melahirkan kebutuhan terhadap kompetensi baru, sehingga generasi muda harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Kementerian Ketenagakerjaan memandang transformasi AI bukan sebagai ancaman yang harus ditakuti, melainkan sebagai peluang emas untuk mengakselerasi produktivitas dan daya saing tenaga kerja nasional dan global,” kata Afriansyah dalam kegiatan Pink Model United Nations (PinkMUN) 2026 di Kampus Binus, Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Dia menjelaskan upskilling dilakukan untuk meningkatkan keahlian yang telah dimiliki agar sesuai dengan perkembangan teknologi.
Sementara, reskilling ditujukan bagi pekerja yang terdampak disrupsi supaya dapat beralih ke sektor baru, sedangkan cross-skilling memberikan kombinasi keahlian lintas bidang untuk meningkatkan fleksibilitas karier.
Menurut Afriansyah, strategi tersebut penting karena Indonesia tengah menikmati bonus demografi, dengan lebih dari 68 persen penduduk berada pada usia produktif.
Meski demikian, dia menyebutkan besarnya jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi bumerang apabila tidak diimbangi kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan pasar kerja.
“Potensi kuantitas yang luar biasa ini dapat menjadi bumerang jika terjadi skill mismatch atau ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki lulusan muda dengan kebutuhan riil pasar kerja modern,” ujar Afriansyah.
Untuk merespons perubahan tersebut, Kemnaker melakukan reorientasi kurikulum pelatihan vokasi dengan mengintegrasikan literasi AI, analisis data, otomatisasi, serta keterampilan nonteknis, di antaranya berpikir kritis, etika kerja, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan.
“Keahlian, seperti berpikir kritis, etika kerja, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan merupakan kemampuan manusia yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin maupun algoritma,” tutur Afriansyah.
















