ASPEK.ID, JAKARTA – Indonesia masih menghadapi krisis dokter spesialis. Di tengah jumlah penduduk yang mencapai 280 juta jiwa, dokter spesialis baru sekitar 2.700 orang per tahun.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menilai angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan beberapa negara lain dengan jumlah penduduk lebih kecil maupun relatif sebanding dengan Indonesia. Hal itu disampaikan Budi dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-30 Perhimpunan Ahli Bedah Saraf Indonesia (PIT PERSPEBSI) 2026 di Batam, Kepulauan Riau.
Budi membandingkan kemampuan Indonesia mencetak dokter spesialis dengan Korea Selatan, Inggris dan Amerika Serikat. Korea Selatan dengan penduduk sekitar 52 juta jiwa, mampu menghasilkan sekitar 3.000 dokter spesialis setiap tahun.
“Lulusan spesialisnya sekarang 2.700-an. Korea Selatan penduduknya seperlima kita, lulusannya sama-sama 2.700 sampai 3.000,” ujar Budi di Jodoh, Batam pada Jumat (28/8/2026).
Kesenjangan tersebut semakin terlihat ketika Indonesia dibandingkan dengan Inggris dan Amerika Serikat. Inggris dengan jumlah penduduk sekitar seperempat Indonesia mampu menghasilkan ribuan dokter spesialis setiap tahun.
Sedangkan Amerika Serikat dengan jumlah penduduk relatif mendekati Indonesia memiliki kapasitas produksi dokter spesialis jauh lebih besar. Budi menilai Indonesia semestinya mampu meningkatkan produksi dokter spesialis secara drastis.
“Indonesia lulus 2.700. Enggak mungkin dong. Harusnya spesialis kita lulusannya minimal 30.000,” katanya dilansir dari liputan6.
Pemerintah menyebut produksi dokter spesialis Indonesia perlu ditingkatkan dari sekitar 2.700 menjadi sedikitnya 10.000 orang per tahun sebagai tahap awal.















